Showing posts with label karyaku. Show all posts
Showing posts with label karyaku. Show all posts

Saturday, December 31, 2022

Menghapal tanpa tahu artinya tak termasuk mempelajari Alquran

Menghafal Tanpa Tahu Artinya, Tak Termasuk Mempelajari Al-Qur’an! 

ibtimes.id/menghafal-tanpa-tahu-artinya-tak-termasuk-mempelajari-al-quran/ 

Amrizal Muchtar May 8, 2022 

Beberapa waktu lalu, saya membaca artikel menarik tentang Musa, anak 7 tahun dari, dari Indonesia yang berhasil meraih juara 3 lomba menghafal Al-Qur’an di Mesir. Berita serupa sudah berkali-kali muncul di media, menunjukkan betapa berbakatnya anak-anak Indonesia dalam hal hafalan. 

Saya selalu terkagum-kagum dengan kemampuan anak-anak Indonesia dalam menghafal kitab suci ini. Kagum bercampur malu sih, karena di usia kepala empat, hafalan saya masih saja setengah juz amma. Pernah sih, dulu, bisa hafal juz 30, tapi sudah menguap karena jarang diulang.

1/3 

Anak Indonesia itu hebat-hebat lho! Bisa menghafal teks Arab yang mereka bahkan tidak tahu artinya, dalam usia sangat muda. Kemudahan untuk dipelajari atau dihafal memang merupakan salah satu keajaiban Al-Qur’an. 

Menjadi Hafizul Qur’an Sebagai Cita-Cita 

Beberapa tahun terakhir, menjadi hafiz atau penghafal Al-Qur’an menjadi salah satu cita cita populer orang tua terhadap anaknya. Begitu banyak sekolah penghafal Al-Qur’an yang dibuka. 

Biarpun hafalan si ortu sendiri masih cetek, mereka tetap punya semangat tinggi untuk mengarahkan bahkan memaksakan anaknya masuk ke sekolah tahfiz. Ada rasa kebanggaan ketika menjadi orang tua seorang hafiz. Begitu banyak keberkahan yang didapatkan oleh penghafal Al-Qur’an, seperti bisa mengangkat kehormatan kedua orang tuanya. 

Menghafal Al-Qur’an Tanpa Tahu Artinya 

Tentunya, kegiatan menghafal Al-Qur’an ini sangat positif. Akan tetapi yang menarik untuk dicermati adalah kebanyakan hafiz itu menghafal saja tanpa mengerti artinya. 

Ini belum pernah terjadi di zaman Rasululllah. Di mana saat itu, Islam belum menyebar ke negara-negara tidak berbahasa Arab. 

Tentunya, banyak penghafal Al-Qur’an di saat itu, tapi karena itu adalah bahasa mereka sendiri, jadi tidak ada masalah. Tapi setelah Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia, ribuan hafiz tak mengerti arti bermunculan di mana-mana. Sepertinya Al-Qur’an memegang rekor sebagai buku terbanyak yang dihafal di seluruh dunia tanpa dimengerti artinya. 

Pada umumnya, proses pembelajaran dimulai dari kegiatan membaca, mengerti, menghafal, dan terakhir mengamalkan atau mengajarkan. Dalam konteks penghapalan Al-Qur’an di negara bukan berbahasa Arab, yang berjalan hanya dua yaitu membaca dan menghafal. 

Al-Qur’an memang adalah mukjizat yang diturunkan ke Nabi Muhammad. Salah satu keajaibannya adalah mudah dihapal tanpa dimengerti. Tapi itu tidak lantas membuat kita melupakan maknanya. 

Ada sebuah hadis yang berbunyi “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori). 

Menurut saya, menghafal tanpa mengerti artinya, tidaklah termasuk dalam hal mempelajari Al-Qur’an. Seperti halnya seorang anak balita yang bisa menghafal kalau 1+1 =2, tanpa mengerti konsepnya kenapa bisa seperti itu. Mempelajari adalah mengerti isinya dan bisa menganalisis logikanya.

2/3 

Memahami kata per kata Al-Qur’an adalah langkah awal untuk mengerti isinya. Memang sih ini bukan level tertinggi dari mempelajari kitab suci yaitu penafsiran. 

Setidaknya, ada dua cara yang bisa ditempuh untuk memahami kata per kata. Yang pertama adalah membaca langsung di mushafnya. Yang kedua adalah memahami bahasa Arab secara langsung. 

Tentunya yang kedua inilah yang tepat bagi seorang hafiz karena yang diharapkan dari seorang hafiz adalah penghafalan, bukan selalu “menyontek” ke mushaf. 

Program menghafal Al-Qur’an yang marak di mana-mana sudah sangat baik. Tapi alangkah baiknya juga didukung oleh program pemahaman bahasa Arab yang saat ini cenderung diabaikan. 

Bagi sekolah hafiz, buatlah program pembelajaran bahasa Arab yang intensif seperti halnya kursus bahasa Inggris. Menurut saya, justru memahami bahasa Arab harusnya lebih diutamakan daripada menghafal itu sendiri. 

Belajar Bahasa Arab Sebelum Menghafal Al-Qur’an 

Kalau ada yang beralasan Bahasa Arab itu susah, ya, lebih susah mana sih, daripada menghafal ratusan halaman Al-Qur’an tanpa tahu artinya? Saya rasa menghafal kosakata bahasa Arab dan tata bahasanya jauh lebih mudah. Bisalah diatur. 


Misalnya, dua tahun pertama di sekolah tahfiz, diintensifkan pelajaran bahasa Arab disertai penghafalan secukupnya. Baru setelah itu, diintensifkan penghafalan Al Qur’annya. 

Mungkin juga perlu diatur, ayat-ayat mana yang memang harus diprioritaskan untuk dihafal oleh anak-anak karena tidak semua isi Al-Qur’an bisa dipahami oleh anak walaupun kata per katanya dimengerti, seperti konsep warisan, dan masalah rumah tangga. Itu adalah ranahnya orang dewasa. 

Menghafal dengan mengerti bahasa Arab akan lebih memudahkan anak-anak. Hafalannya bisa lebih cepat dan bertahan lebih lama di memori, karena mereka bisa mengasosiasikan kalimat Al-Qur’an dengan benda-benda serta logika. 

Banyak orang tua yang beranggapan bahwa hapalan Al-Qur’an sudah pasti akan membuat anak menjadi saleh. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Ada remaja tetangga saya yang juga hafiz, berulang kali masuk penjara karena kenakalannya. 

Bisa jadi karena dia cuma sekedar hafal saja tanpa memahami. Kita saja yang bisa memahami aturan lalu lintas dalam bahasa Indonesia kadang-kadang melanggar, apalagi kalau tidak paham kan? 

Editor: Yahya FR

3/3 


Mengurai Benang Kusut Resistensi Antibiotik

Mengurai Benang Kusut Resistensi Antimikroba

Oleh : Amrizal Muchtar

Dosen Mikrobiologi FK UMI


Pada tahun 2019, diperkirakan 1,2 juta orang meninggal di seluruh dunia akibat kasus resistensi antimikroba. Karena pentingnya kesadaran akan ancaman ini di masa depan, maka WHO mengkampanyekan pekan ini, setiap tanggal 18-24 November, sebagai Pekan Kesadaran Antimikroba Dunia. Tahun ini, temanya adalah “Mencegah Resistensi Antimikroba secara Bersama-sama.”

 Menurut WHO, resistensi antimikroba terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit mengalami perubahan sifat menjadi tidak lagi sensitif terhadap antimikroba sehingga membuat infeksi menjadi sulit ditangani dan akhirnya meningkatkan resiko penyebaran penyakit, kegawatan dan kematian. Penanganan resistensi ini memang bukan hal sederhana karena terpengaruh oleh beberapa pihak yaitu masyarakat, tenaga kesehatan, pemerintah, industri kesehatan, dan sektor agrikultural. Karena itu tanpa kekompakan nasional, resistensi antimikroba tidak akan bisa ditangani.

--oo--

Sebelum ditemukan antibiotik, jutaan orang meninggal akibat penyakit infeksi seperti pneumonia. Pada era perang dunia 1, Flemming, orang Skotlandia, adalah salah satu orang yang melakukan wajib militer. Di sana dia mengamati begitu banyak orang yang meninggal bukan karena luka perang, tapi karena infeksi pada luka tersebut. Dia kemudian memutuskan melakukan riset terhadap bakteri penyebab infeksi untuk menemukan obatnya.

Pada awal September 1928, dia lupa menutup cawan petri yang berisi bakteri Staphylococcus di laboratoriumnya pada saat dia pergi liburan. Tak disangka saat dia kembali dari liburan, tumbuh jamur di cawan tersebut. Dia mengamati ada satu bagian cawan yang ditumbuhi jamur yang tidak bisa ditumbuhi bakteri. Setelah diteliti lebih lanjut, dia menemukan kalau jamur tersebut ternyata adalah Penicillium notatum yang bisa menghasilkan antibiotik penisilin yang mematikan kuman. Inilah awal dari penemuan antibiotik pertama di dunia. Butuh 10 tahun untuk bisa mengumpulkan penisilin dalam jumlah besar. Menjelang perang dunia kedua, penisilin berhasil diproduksi secara besar-besaran sehingga bisa menyelamatkan ribuan nyawa. 

Ketika resistensi antimikroba total nanti terjadi, maka zaman akan kembali seperti masa di atas ketika antibiotik belum ditemukan. Ada antibiotik tapi tidak ada yang bisa membunuh kuman karena semuanya sudah kebal. Di situlah pastinya kepanikan global akan melanda karena jutaan korban akan jatuh akibat penyakit-penyakit seperti pneumonia yang saat ini masih bisa diobati.

Inilah yang ingin dicegah oleh WHO, jangan sampai terjadi dengan cepat. Resistensi antimikroba memang mau tidak mau pasti akan terjadi suatu saat mengingat tingginya tingkat mutasi yang terjadi pada bakteri, virus, jamur, dan parasit. Tapi kebiasaan masyarakat menggunakan antibiotik secara tidak rasional semakin mempercepat hal itu sedangkan penemuan obat antimikroba baru sangat lambat. 

–oo–

Kekompakan nasional yang meliputi masyarakat, sarana kesehatan, pemerintah, industri kesehatan, dan agrikultural harus bisa terjadi efektif.f untuk bisa memperlambat laju resistensi. Ini adalah tugas pemerintah sebagai pembuat kebijakan untuk mengkoordinasi kerjasama ini.

Pemerintah harus membuat strategi jangka panjang untuk memperlambat angka kejadian resistensi antimikroba. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah memperbaiki pelaporan kasus resistensi obat di fasilitas kesehatan.

Saat ini semua rumah sakit sudah sering menguji resistensi obat terhadap kuman tertentu, tapi itu hanya untuk kepentingan institusi yang bersangkutan sendiri padahal keberadaan kuman bersifat global. Kuman yang resisten di Papua akan dengan mudah menjangkiti pasien di Jakarta dengan mudahnya mobilitas. Seperti halnya kasus Covid 19 yang awalnya hanya di China tapi bisa segera mendunia. Jadi sudah selayaknya laporan resistensi obat di suatu tempat bisa dikelola dalam suatu pelaporan daring dimana semua orang bisa mengaksesnya.

Tenaga kesehatan mencakup dokter dan apotek adalah dua pihak yang sangat sering tidak kompak di Indonesia terkait ini. Apoteker sering menjual obat antibiotik secara bebas tanpa ada resep dokter padahal sudah ada aturan PP no. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian pasal 24c yang melarang penjualan obat keras termasuk antibiotik tanpa resep dokter. Sebaliknya apotek juga sering komplain, kenapa dokter bisa memberikan obat antibiotik tanpa melalu apotek. Ini kembali lagi kepada penegakan tegas hukum yang ada. Saat ini pengawasan peredaran narkotika sudah lebih bisa diatur ketimbang antibiotik. Padahal kedua jenis obat tersebut diatur dalam aturan yang sama.

Industri kesehatan juga memegang peranan penting karena penemuan obat antibiotika baru sangat mendesak. Diperlukan investasi besar-besaran untuk meriset obat baru sehingga jangan kalah cepat dari laju resistensi obat. Sektor agrikultural juga tidak kalah penting, karena antimikroba juga dipakai di hewan dan tumbuhan, sehingga pengawasannya juga harus bersamaan. (AMR)





Monetisasi sosial media untuk kepentingan pendidikan

Monetisasi Sosial Media untuk Kepentingan Pendidikan


 Penulis: Amrizal Muchtar


Saat ini, pandemi Covid-19 telah merevolusi beberapa sistem sosial kehidupan masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Salah satunya adalah di bidang pendidikan. Pandemi mengubah sistem pembelajaran anak sekolah dari sistem tatap muka ke sistem pembelajaran daring secara tiba-tiba. Tentu saja, harus diakui bahwa pembelajaran tatap muka jauh lebih baik. Namun apa daya, demi alasan kesehatan kita tetap harus  menerapkan   pembelajaran dari rumah.

Di bawah kepemimpinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, telah banyak diterapkan ide-ide kreatif untuk mengefektifkan sistem pembelajaran daring ini. Salah satu ide yang cukup menarik untuk di dilakukan adalah monetisasi sosial media seperti Youtube oleh pemerintah dan hasil keuntungannya dimanfaatkan untuk menambah dana pendidikan siswa di Indonesia.

Saat ini hampir semua lembaga pendidikan menggunakan aplikasi video konferensi sebagai sarana komunikasi dalam sistem daring seperti software Zoom dan Microsoft teams. Keunggulan dari software ini adalah bisa menyajikan sistem pengajaran interaktif   mirip seperti sistem tatap muka tapi dari jarak jauh. 

Peluang di tengah Bencana

Walaupun aplikasi video konferensi sangat berjasa, sebenarnya sosial media Youtube menawarkan beberapa peluang luar biasa yang bagus untuk membantu proses pembelajaran daring dalam dunia pendidikan kita. Salah satu peluang besar adalah melakukan monetisasi YouTube untuk dana pendidikan.

Kita tahu bahwa youtube adalah aplikasi berbagi video yang bisa menghasilkan uang bagi pembuat kontennya. Saat ini youtuber dengan penghasilan tertinggi di Indonesia adalah Deddy Corbuzier. Artis ini, berdasarkan data Social Blade pada 10 Agustus 2021, mendapatkan penghasilan Rp 338 juta -.5,3 milyar per bulan dengan jumlah penonton rata-rata 93 juta orang per bulan.

Bagaimana kalau Departemen Pendidikan juga mengolah sebuah channel pendidikan terpusat yang berisi seluruh materi pelajaran di Indonesia, mewajibkan para siswa belajar dari situ dan kemudian memonetisasinya   dan hasilnya dikembalikan ke pelajar, mahasiswa atau pengajar sebagai dana segar untuk pendidikan?

         Menurut data kemendikbud, pada tahun 2020, ada 25,2 juta pelajar di Indonesia. Dengan asumsi bahwa apabila 50 % dari semua pelajar tersebut belajar dari satu chanel youtube departemen pendidikan selama minimal 4 jam setiap harinya dan 25 hari setiap bulannya maka akan ada minimal 1,25 milyar views dari seluruh pelajar Indonesia. Dengan asumsi perhitungan yang serupa dengan penghasilan dari Deddy Corbuzier maka potensi dana pendidikan yang bisa didapatkan setiap bulannya adalah Rp 4,5 milyar- Rp 71 milyar. Sungguh dana yang sangat besar yang bisa diperoleh tanpa memberatkan keuangan negara. Dana ini bisa dipakai untuk menyediakan koneksi internet secara gratis bagi orang-orang di wilayah terpencil yang yang belum memiliki infrastruktur komunikasi yang bagus. Ini juga bisa dipakai untuk membelikan ribuan HP pintar kepada masyarakat yang kurang mampu sehingga ancaman putus sekolah bisa diminimalisir.

   Tentunya ini  membutuhkan organisasi atau manajemen channel YouTube yang profesional dan juga upaya sentralisasi materi bahan pendidikan di seluruh Indonesia. Sebenarnya kurikulum yang sama yang berlaku di seluruh Indonesia sangat memungkinkan sentralisasi pendidikan melalui YouTube. Materi pelajaran yang diajarkan di tingkatan kelas yang sama  harusnya adalah serupa karena kurikulumnya sama. Jadi bisa dibuatkan  satu materi pembelajaran untuk topik tertentu oleh guru yang dipilih memiliki cara penyampaian materi yang menarik dan mudah dimengerti. Dengan target penonton pada tingkatan kelas tertentu dan  dengan manajemen  yang bagus maka akan ada ada ratusan materi pelajaran yang baik di channel YouTube tersebut yang akan mengundang miliaran penonton (view) setiap bulannya dan menghasilkan dana pendidikan yang luar biasa jumlahnya.

Lantas bagaimana peranan dari sekolah-sekolah lokal yang ditempati oleh siswa yang belajar daring? Tentu saja tetap masih ada. Penyampaian dengan mediasi YouTube yang yang sistemnya tidak  interaktif  bisa saja  akan lebih susah dimengerti dibanding yang interaktif. Disinilah peran sekolah lokal untuk menambahkan  pertemuan tambahan  kepada siswa  yang sudah menonton pembelajaran via media YouTube lewat media aplikasi konferensi video seperti Zoom atau Microsoft teams. 

Kelebihan YouTube tidak hanya dari peluang monetisasinya. Dibandingkan aplikasi interaktif seperti Zoom, efektivitas YouTube dalam pembelajaran daring bisa lebih baik. Aplikasi konferensi interaktif seperti Zoom hanya bisa dipakai di satu waktu tertentu sesuai kesepakatan waktu antara guru dengan murid. Tapi untuk YouTube, ini bisa di nonton kapanpun si murid memiliki waktu. YouTube sebenarnya juga memiliki fasilitas interaktif tapi berupa komentar. Jadi, jika ada yang bingung tentang materi pelajarannya bisa langsung di komentar. Apabila ternyata banyak pertanyaan serupa yang muncul maka admin dari channel tersebut bisa membuat satu video khusus untuk pertanyaan tersebut.

Kekurangan dari aplikasi Zoom dan sejenisnya adalah ini membutuhkan kecepatan internet yang kuat karena bersifat interaktif dan ini tidak semua tersedia di seluruh pelosok Indonesia. YouTube memiliki fleksibilitas dalam hal resolusi, sehingga untuk yang memiliki kecepatan internet lambat bisa memilih menonton video dengan resolusi yang yang rendah.  Untuk lokasi dengan  kecepatan internet tidak stabil pada saat-saat tertentu, maka videonya nya bisa didownload pada saat kecepatan internet lagi bagus dan di nonton tanpa perlu kuota internet. Untuk daerah yang sama sekali tidak memiliki jaringan internet, maka bisa dibantu dengan menaruh video tersebut dalam suatu DVD dan kemudian dikirimkan lewat pos ke area tersebut. 


Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan manfaat dan inspirasi kepada seluruh pihak. 

 

*Penulis adalah Dosen di Universitas Muslim Indonesia, Mengambil Program PhD di Jepang










Mirna kombinasi untuk deteksi kanker paru


Mirna Kombinasi untuk Deteksi Dini Kanker Paru

Oleh : Amrizal Muchtar


Banyak sekali orang meninggal karena kanker yang terlambat dideteksi. Ria Irawan meninggal karena kanker kelenjar getah bening. Chrisye karena kanker paru.  Steve Jobs karena kanker pankreas. 

Menurut situs resmi Union for International Cancer Control, tema hari kanker tahun 2022 ini adalah “Hentikan Kesenjangan dalam Perawatan”. Pada tulisan ini, penulis ingin fokus kepada kanker paru dan deteksi dininya.

Kanker paru di Indonesia menduduki peringkat ketiga kanker terbanyak. Pada tahun 2020, terdapat 34.783 kasus kanker paru. Ini tidak mengherankan mengingat besarnya populasi perokok aktif di Indonesia. 

Kanker paru memiliki beberapa stadium keparahan dari stadium 1-4. Saat kanker masih stadium 1, tingkat kelangsungan hidup 5 tahun, mencapai 80 persen. Sayangnya, stadium 1 sering ini tidak bergejala sehingga jarang terdeteksi sampai akhirnya terlanjur parah ke stadium berikutnya. Seiring memburuknya stadium, peluang kesembuhannya hanya 37% untuk stadium 3, dan 6 % untuk stadium 4.. 

Deteksi dini kanker paru selama ini masih jauh dari harapan. Selama ini, penggunaan CT scan sebagai detektor dini memiliki banyak kekurangan seperti spesifisitas yang rendah dan jumlah alat yang masih sangat terbatas.

Salah satu penemuan yang cukup menjanjikan adalah ditemukannya microRNA (miRNA) kombinasi yang punya tingkat keakuratan tinggi mencapai 99 % pada suatu penelitian di Jepang. Menurut pengalaman penulis selama melakukan penelitian di Jepang, pengukuran kadar miRNA dari sampel tubuh seorang manusia relatif sangat mudah. Caranya sangat mirip dengan pengukuran PCR biasa pada pasien COVID, dan  membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja.

MiRNA adalah asam nukleat RNA yang tidak mengkode protein  yang tersebar dan bersifat stabil di dalam tubuh manusia dan makhluk lain, seperti di dalam darah, plasma, serum, atau sputum. Ini pada dasarnya berfungsi untuk meregulasi aktivitas gen dalam tubuh seperti mengontrol  ekspresi protein tertentu. Pada kasus kanker tertentu, ekspresi beberapa miRNA akan meningkat drastis sehingga bisa menjadi penanda atau biomarker potensial untuk beberapa jenis kanker. 

Keisuke Asakura dalam penelitian yang dimuat di jurnal Communications Biology pada tahun 2020 membuat proyek penelitian nasional di Jepang yang diberi nama Development and Diagnostic Technology for Detection of miRNA in Body Fluids yang bertujuan untuk menganalisa profil ekspresi miRNA pada 13 tipe kanker termasuk kanker paru.

Keisuke kemudian menganalisa data microarray miRNA dari 1698 sampel serum  pasien kanker dan 207 non kanker dari  Pusat Kanker Nasional BioBank dan 1998 sampel serum  non kanker dari Klinik Minoru Yokohama. Awalnya dia berhasil menemukan 2588 data miRNA penting yang kemudian setelah diolah menyusut menjadi 406 data miRNA yang bisa dibandingkan antara pasien kanker dan non kanker. 

Profil 406 data miRNA kemudian dianalisa pada masing-masing 208 sampel pasien kanker dan non kanker. Mereka menemukan memang ada peningkatan signifikan beberapa miRNA tunggal pada pasien kanker dengan sensitivitas 93,3 % dan spesifisitas 88.5 %. Ketika menganalisa pola kombinasi miRNA, ditemukan dua miRNA, yaitu miR-1268b dan miR-6075,  selalu meningkat di sampel pasien kanker paru dengan sensitivitas  99.0 % dan spesifisitas 99,0 %. 

Proses selanjutnya adalah menganalisa lebih lanjut kadar atau ekspresi dua kombinasi miR-128b dan miR-6075 pada berbagai stadium kanker paru. Ternyata keduanya juga terekspresi di semua stadium kanker paru termasuk stadium awal. 

Penemuannya menjadi lebih menarik ketika mereka membandingkan ekspresi  kedua miRNA tersebut pada pada sampel pasien sebelum dan sesudah operasi pengangkatan jaringan kanker. Sebelum operasi, kadar atau ekspresi dari kombinasi miR-128b dan miR-6075 adalah 0,98  + 0,82. Menurun drastis menjadi -4.30 + 1.15, 60 hari  setelah operasi. Penemuan ini mengindikasikan bahwa kedua miRNA ini terkait erat dengan jaringan kanker dan  memiliki potensi besar untuk menjadi penanda atau biomarker kanker paru tahap dini. 

Penelitian miRNA terkait kanker memang sudah lama dilakukan dan  sering mendapatkan hasil yang bermakna. Skrining kanker dengan hanya menggunakan CT scan dosis rendah memiliki angka positif palsu yang tinggi mencapai 64 % yang mana sering mengharuskan pemeriksaan susulan yang tidak penting seperti CT scan ulang dan biopsi paru invasif yang tentunya sangat memakan biaya besar. Tapi kombinasi CT scan dosis rendah dan pemeriksaan profil miRNA juga terbukti menurunkan angka positif palsu di atas menjadi lima kali lipat lebih rendah. 

Tentunya penelitian ini masih membutuhkan pengkajian dan penelitian susulan yang lebih dalam, tapi ini adalah harapan besar untuk menurunkan jumlah kematian  akibat kanker paru di seluruh dunia dan mengurangi prosedur diagnostik yang tidak diperlukan. Deteksi dini kanker paru dengan menggunakan profil miRNA bisa dilakukan dimana-mana dengan hanya menggunakan alat PCR yang tentunya jauh lebih murah dan efektif dibandingkan penggunaan CT scan. (AMR)



Tuesday, November 13, 2007

Liputan : Andrea Hirata Tidak Suka Perpustakaan


Dunia perbukuan Indonesia belakangan ini dimarakkan oleh munculnya penulis-penulis baru yang berprestasi melahirkan karya-karya bestseller. Satu dari sekian penulis tersebut adalah Andrea Hirata, seorang pria asal Belitung yang mengisahkan perjalanan hidupnya dalam novel tetralogi Laskar Pelangi. Pada rabu, 31 November 2007, Andrea didaulat untuk membedah novel laris tersebut di Gedung Graha Pena, Makassar.
Buku Laskar Pelangi merupakan karya fenomenal dari pria yang mengaku belum pernah sekalipun menulis suatu karya sastra sebelumnya. Penjualan buku ini benar-benar mengagumkan. Sejak diterbitkan pertama kali pada September 2005 sampai Oktober 2007, buku ini telah dicetak ulang sepuluh kali.

Acara bedah novel itu tampaknya disambut hangat dan antusias oleh peminat buku di Makassar. Ini terbukti dari jumlah peserta yang tidak kurang dari tiga ratus peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, karyawan, dan ibu rumah tangga memenuhi ruang pertemuan tempat acara tersebut berlangsung. Bahkan Ilham Arif Sirajuddin, walikota Makassar, diundang dan didaulat untuk membuka acara tersebut.

“Acara ini sangat bagus dan sinergis dengan program Gerakan Makassar Gemar Membaca yang sedang dijalankan pemerintah daerah," kata Ilham dalam sambutannya. Menurutnya, banyak sekali hal positif yang bisa didapat dari kegiatan membaca. Karena itu pemerintah sangat mendukung program seperti ini. Bahkan bagi penulis asal Makassar yang berkeinginan menerbitkan karyanya akan dibantu.

Salah satu bukti yang ditunjukkan oleh Walikota adalah dengan membeli secara langsung seratus eksemplar buku PANGERAN BERKUDA PUTIH DAN SUPIRKU, karangan Islah, seorang siswi asal SMA 5 Makassar. Pembelian ini dilakukan secara simbolis di hadapan ratusan peserta.

Selain penulis buku, acara ini juga dihadiri editor buku Laskar Pelangi, Salman Faridi, yang berasal dari penerbit BENTANG PUSTAKA Yogyakarta. Bersamanya, Andrea Hirata membedah bukunya dengan gaya yang santai. Sesekali Andrea menyegarkan suasana acara dengan lelucon-lelucon mengejutkan. Hal ini tidak mengherankan, mengingat ini adalah bedah buku ke 98 yang dia lakukan di seluruh Indonesia.

Laskar Pelangi sendiri mengisahkan kehidupan di sebuah SD yang hanya memiliki sepuluh murid, salah satunya adalah Andrea. Tragisnya, kondisi SD yang berada di daerah pedalaman Belitung tersebut sangat memprihatinkan karena hampir roboh. Tapi berkat kegigihan murid-murid tersebut dan jasa Ibu Muslimah, satu-satunya guru di sekolah tersebut yang rela mengajar mereka bertahun-tahun tanpa digaji, mereka semua berhasil menjalani pendidikan.

Kisah Laskar Pelangi sangat mengharukan dan mengandung nilai-nilai edukasi yang tinggi bagi pembaca. Walaupun sudah puluhan kali membedah bukunya, tampak sang penulis masih terdengar terharu saat menceritakan pengabdian Ibu Muslimah dalam mengajar mereka. Salah satu yang dia ceritakan adalah di saat mereka bersepuluh sudah berada di dalam kelas untuk belajar dan ternyata Ibu Muslimah belum datang-datang. Hujan yang deras memperburuk suasana saat itu. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan anak-anak SD yang terkurung dalam suatu gedung reot di tengah hujan lebat tanpa ada orang dewasa di dekat mereka. Di sini pengabdian Ibu Muslimah benar-benar terlihat. Ternyata guru tersebut tetap datang mengajar walaupun hanya dengan berpayungkan daun pisang. Disinilah terpatri niat dalam hati Andrea kecil untuk menuliskan pengabdian gurunya tersebut dalam suatu buku.

Akan tetapi, niat tersebut ternyata tidak segera dia dapat wujudkan. Karena kesibukan setelah bekerja, niat tersebut sempat terlupakan. Musibah Tsunami Aceh 2004 menggugah kembali semangatnya. Saat dia jadi relawan di Serambi Mekah, dia mendapati begitu banyak sekolah-sekolah rubuh di kota itu. Yang paling menggetarkan perasaannya saat dia melihat spanduk yang bertuliskan AYO SEKOLAH, JANGAN MENYERAH. Dia merasa sangat sedih dan segera teringat kondisi sekolahnya dahulu. Selepas pulang dari Aceh, Andrea segera menulis kisah hidupnya tersebut. Dan sungguh luar biasa, hanya dalam tiga minggu saja draft pertama novel setebal 700 halaman tersebut selesai.

Awalnya pria yang bekerja di TELKOM Bandung ini sama sekali tidak ada niat untuk menyebarluaskan novel ini. Andrea hanya mencetak fotokopi untuk kalangan terbatas. Tapi seorang teman yang melihat prospek buku ini diam-diam mengirim ke penerbit Bentang atas nama Andrea. Fantastis, dalam hitungan minggu, novel ini laris manis hingga harus dicetak ulang.

Begitu banyak komentar yang datang merespon kehadiran buku Laskar Pelangi. Kebanyakan bersifat memuji kehadiran buku yang lain dari yang lain ini. Hal ini memicu sang penulis melanjutkan menulis kisah hidupnya yang menarik hingga menjadi tetralogi. Baru tiga yang telah terbit yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Semuanya telah berkali-kali cetak ulang. Edensor sendiri yang edisi pertamanya terbit Mei 2007 telah mengalami empat kali cetakan. Buku terakhir dari rangkaian tetralogi yang berjudul Maryamah Karpov belum diterbitkan.

Dalam bedah novel gratis ini, beragam peserta mengajukan pertanyaan kepada Andrea. Salah satunya Aan mengomentari bahwa dia sangat tidak setuju kalau cerita Laskar Pelangi difilmkan karena unsur-unsur literasi dari buku akan hilang. Andrea dalam hal ini berkomentar bahwa dia akan ikut berjuang keras agar ceritanya ini benar-benar akan berjalan sesuai konteks novelnya dan tidak diseret arus kapitalis yang menyebabkan suatu karya menjadi tidak bermutu.

Satu hal menarik yang terungkap dari bedah novel ini adalah pendapat Andrea yang mengatakan tidak setuju dengan konsep perpustakaan yang ada selama ini. Menurutnya konsep perpustakaan itu tidak akan memecahkan persoalan minat baca di Indonesia karena tidak meliput ke semua orang dan semua area. Banyak sekali orang yang tidak bisa mendatangi perpustakaan dan sebaliknya kualitas perpustakaan yang ada sering tidak membuat pengunjungnya meraih apa yang mereka butuhkan.
Andrea lebih menyukai konsep learning centre dimana sumber-sumber pengetahuan seperti guru-guru langsung didatangkan ke daerah yang membutuhkan. Ini akan lebih tepat sasaran, menurut Andrea yang dalam bedah novel ini menantang kepada peserta untuk menjadi guru-guru tersebut.

Bedah novel ini diharapkan bisa merangsang minat baca dan menulis masyarakat makassar sehingga bisa bakat-bakat yang masih kuncup di kota Daeng ini bisa mekar mewarnai dunia perbukuan kita yang mulai menggelora.


Amrizal Muchtar

Saturday, November 10, 2007

Artikel: Indonesia Kekurangan Pahlawan

Seperti anak SD, kalau kita ditanya tanggal 10 November itu diperingati sebagai hari apa, kita serentak akan berseru, Hari Pahlawan. Demikian melekatnya tanggal tersebut dengan nama peringatannya. Hampir semua orang, dari yang tidak pernah mengenal alfabet sampai kepada guru-guru besar, menghapal mati hal ini. Namun kepopulerannya ternyata hanya sebatas kulit.

Hari Pahlawan memang rutin diperingati di seluruh Indonesia, tapi itu tidak lebih dari pada seremonial belaka. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak dihayati dan tidak mewarnai aktivitas kehidupan bermasyarakat. Kehidupan dinamis ala barat, yang sangat mendewakan individu, tampak berperan penting sebagai penyebab memudarnya nilai-nilai kepahlawanan tersebut. Orang-orang, terutama di lingkungan perkotaan, sering menunjukkan sifat individualisme, kurang memperdulikan orang lain di sekitarnya dan hanya berpusat pada kepentingan diri sendiri.

Berkaitan dengan judul tulisan, mungkin akan terbetik pertanyaan mengapa sampai dikatakan Indonesia kekurangan pahlawan. Bukankah taman makam pahlawan sudah berjubel dengan nisan-nisan yang indah? Bukankah kita bisa menikmati kemerdekaan dari penjajah karena banyaknya pahlawan yang rela mengorbankan dirinya dan hartanya untuk bangsa?

Berbicara masalah pahlawan, tentu tak bisa dilepaskan dari pengertian tentang pahlawan itu sendiri. Selama ini, kita sering salah dalam menetapkan siapakah yang pantas disebut pahlawan di negeri ini. Kita hanya memandang bahwa pahlawan adalah orang-orang yang pernah berjuang membebaskan negeri ini dari cengkraman kaum penjajah. Malah ada yang lebih lucu lagi dimana banyak orang yang beranggapan bahwa seseorang baru disebut pahlawan apabila orang itu berjasa bagi negara dan orang tersebut sudah meninggal. Itulah sebabnya, banyak kasus ironis di negeri ini, di mana seseorang yang pernah mati-matian membela bangsa dan negara, selepas kemerdekaan, hidup dengan sangat melarat dan tak terperhatikan. Baru pada saat meninggal, orang-orang mengingat dan mengagung-agungkannya. Malah ada yang sampai mati pun tidak terperhatikan.

Kadang juga ada yang pikirannya sedikit lebih luas, dengan menganggap bahwa pahlawan itu tidak cuma ada di zaman kemerdekaan saja. Sekarang pun, di masa pembangunan, banyak pahlawan-pahlawan di tanah air ini. Sebagai contoh, Susi Susanti (bidang olahraga). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (politik), Abdullah Gymnastiar (bidang agama). Pokoknya semua orang-orang ternama yang mengabdikan dirinya untuk bangsa. Tapi sebenarnya, pemahaman pahlawan seperti ini masih sempit.

Yang benar, pahlawan adalah semua orang yang rela dan mau membantu atau berbuat baik kepada orang lain, bangsa ataupun negara tanpa adanya rasa pamrih. Tidak peduli baik orang terkenal maupun tersembunyi di hutan belantara, baik yang meninggal maupun yang masih hidup. Mereka merasa bahwa mereka ini hidup tidak sendiri. Mereka satu kesatuan dengan masyarakat dan bangsa. Mereka merasa bahwa orang lain adalah saudara yang wajib mereka bantu. Tidak akan tenang hati mereka kalau orang lain kesusahan. Itulah hakikat pahlawan yang sebenarnya.
Dari batasan ini, sudah jelaslah, sangat tepat kalau dikatakan bahwa Indonesia dewasa ini kekurangan pahlawan. Sebagian besar orang hanya hidup untuk diri sendiri dan keluarganya. Sikut sana, sikut sini, biarkan saja orang lain seperti apa adanya, asal mereka sendiri dapat hidup dengan enak. Mereka tidak merasa bahwa kehidupan orang lain adalah bagian dari kehidupan mereka juga. Egois atau individualis adalah istilah yang tepat.

Itulah salah satu hal yang memperpuruk kehidupan ekonomi dan sosial bangsa ini yang sudah carut-marut. Kurangnya jiwa kepahlawanan, menyebabkan semakin melebarnya gap antara si kaya dan si miskin. Yang kaya semakin makmur, yang miskin semakin melarat. Kurangnya jiwa kepahlawanan juga menjadi sebab, tidak dinikmatinya kekayaan alam Indonesia yang konon berlimpah secara merata oleh masyarakat. Pihak yang berkuasa, karena mementingkan diri sendiri, mengelola kekayaan tersebut dengan seenak perut, bahkan mereka rela menjual kekayaan tersebut ke pihak asing, sehingga otomatis hasilnya lari ke negara lain. Jadilah kita seperti tikus yang mati di lumbung padi.

Sejenak, kita perlu menapak tilas asal muasal hari pahlawan itu sehingga kita akan semakin mengerti betapa pentingnya jiwa kepahlawan ditumbuhkan dalam diri kita. Secara ringkas,diceritakan sebagai berikut:

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Ini setelah sekutu berhasil menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Dengan menyerahnya Jepang, praktis selama beberapa saat Indonesia bebas dari pendudukan negara manapun. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pemuka-pemuka bangsa untuk memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Dengan proklamasi ini, semakin bergeloralah tekad seluruh bangsa Indonesia untuk merdeka dan mempertahankan kemerdekaan tersebut. Karena itu tatkala, tentara Inggris datang pada tanggal 15 September 1945 di Jakarta dan 25 Oktober 1945 di Surabaya dengan maksud melucuti senjata tentara Jepang dan sekaligus mengembalikan Indonesia menjadi jajahan Belanda, maka Indonesia bereaksi keras.

Peristiwa di hotel Yamamoto, Surabaya, benar-benar mempertegas maksud bahwa Indonesia akan segera dikembalikan ke tangan Belanda. Saat itu, dikibarkan bendera Belanda Merah-Putih-Biru di hotel Yamamoto. Rakyat Surabaya marah besar, dan terjadilah insiden tunjungan untuk menurunkan bendera tersebut. Insiden ini menyulut bentrokan-bentrokan antara tentara Inggris dengan badan-badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat.

Bentrokan-bentrokan itu meluas dan memuncak tatkala pimpinan tentara Inggris di Surabaya, Brigadir Jendral Mallaby pada tanggal 30 Oktober terbunuh. Akibatnya, pengganti Brigadir Jendral Mallaby, Mayor Jendral Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia bersenjata harus melapor dan meletakkan sejata di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum yaitu jam 6 pagi tanggal 10 November 1945.

Ini merupakan penghinaan yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Tentu saja ultimatum itu ditolak. Akibatnya, pada tanggal 10 November 1945, tentara Inggris melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Surabaya dibombardir dengan bom, ditembaki secara membabibuta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Akan tetapi Tentara Keamanan Rakyat dan badan-badan perjuangan serta dibantu oleh rakyat terus mengadakan perlawanan. Mereka rela mengorbankan hidup mereka yang sangat tidak ternilai demi kemerdekaan.

Dari peristiwa bersejarah tersebut, tampak jelas betapa besar pengorbanan yang mereka lakukan demi sesuatu yang sangat berharga yaitu kemerdekaan. Begitu besar jasa-jasa mereka terhadap kehidupan kita. Mereka benar-benar pahlawan sejati.

Seharusnya diri kita pun bisa menerapkan rasa kepahlawanan seperti mereka dalam kehidupan kita. Kita tidak harus bertempur seperti mereka untuk jadi pahlawan. Situasinya sekarang lain. Kalau dulu mereka menjadi pahlawan untuk merebut kemerdekaan, sekarang kita menjadi pahlawan untuk mengisi kemerdekaan. Itu adalah sama mulianya dengan nilai kepahlawanan mereka.

Memang, hati kita lebih sering terusik jika ada provokasi dari luar. Rasa kepahlawanan kita untuk membela milik kita secara otomatis muncul jika menghadapi sesuatu yang mengancam keberadaannya. Pada peristiwa bersejarah di atas, ada provokasi dari penjajah, sehingga muncul semangat untuk membela negara sampai titik darah penghabisan. Contoh lain, masih kita ingat, saat panas-panasnya kasus Ambalat di perbatasan antara Malaysia dan Indonesia. Serta merta, ratusan bahkan ribuan orang mendaftarkan diri secara sukarela untuk menghadapi Malaysia kalau sampai negeri jiran tersebut menginvasi wilayah Indonesia.

Tapi kita tidak lantas hanya mempersempit lingkup kepahlawanan seperti itu saja. Nilai-nilai kepahlawanan yang kita terapkan di kala damai, dengan cara bersedia menolong dan berbuat kebaikan kepada orang lain, bangsa, dan negara tanpa pamrih, malah lebih bernilai dibandingkan nilai-nilai kepahlawanan saat perang. Kita berharap saja semoga semangat ramadan yang baru saja kita tinggalkan tidak pudar di tengah jalan dan bisa menginspirasi kita untuk terus mengobarkan semangat kepahlawanan dengan jalan berbuat kebaikan di dalam masyarakat, bangsa, dan negara tanpa mengharapkan pamrih.

Amrizal Muchtar
Memperingati hari Pahlawan 10 November 2007

Partner Link : Natural Diabetes

Tuesday, September 18, 2007

Ketika Wakil Cuma Cadangan

Sebentar lagi warga Sulawesi Selatan akan mengikuti pemilihan kepala daerah (Pilkada) Gubernur dan Wakil Gubernur secara langsung. Ini adalah pilkada langsung pertama yang terjadi di propinsi ini. Lima tahun lalu, gubernur dan wakilnya dipilih oleh anggota DPR. Sekarang, terasa benar, kekuasaan ada di tangan rakyat. Rakyatlah yang memilih langsung pemimpinnya.

Kenyataan menunjukkan adanya kecenderungan seorang kepala daerah atau kepala negara tidak puas dengan jabatan satu periode. Yang sudah menjabat selalu ingin mempertahankan atau meningkatkan jabatannya sampai batas waktu maksimal. Dalam hal ini, seperti yang di tetapkan UU, selama dua periode.

Bisa dilihat contohnya gubernur Jakarta sebelumnya Sutiyoso, menjabat dua periode. Salah satu calon gubernur Sulsel pun, yaitu Amin Syam masih ingin menjabat satu periode lagi. Bahkan dalam sejarah Indonesia, Soeharto mampu mempertahankan kekuasaannya selama 6 periode.

Namun tulisan ini tidak akan membahas pertahanan jabatan gubernur, tapi peningkatan jabatan dari wakil menjadi gubernur. Peristiwa seperti inipun kerap terjadi di negara kita. Contohnya Megawati, dari wakil menjadi Presiden, Ratu Atut di Banten dan Fauzi Bowo di Jakarta, dari wakil menjadi gubernur. Sekarang fenomena itu juga terjadi di Pilkada Sulsel dengan mencalonkan dirinya Syahrul Yasin Limpo menjadi Calon Gubernur.

Apa sebenarnya makna dibalik ini semua? Mengapa sedemikian banyak wakil yang mau jadi gubernur? Apakah memang ada ketidakpuasan terhadap partnernya dalam memimpin daerah yang bersangkutan? Atau adakah faktor nafsu materi dan kekuasaan yang berperan di sini?


******

Negara dan propinsi merupakan suatu wilayah administratif yang memiliki sistem organisasi untuk menjalankan roda pemerintahan. Seperti umumnya organisasi, tentulah setiap daerah mengharuskan adanya satu pimpinan supaya roda pemerintahan berjalan ke satu arah.

Untuk memimpin organisasi ini, pemimpin selalu memiliki partner yang sering disebut wakil. Jadi ada kepala negara ada wakil kepala negara, ada kepala daerah ada juga wakil kepala daerah.

Peran wakil yaitu membantu pemimpin menjalankan tugas-tugas kenegaraan sesuai dengan program kerja yang telah dibuat. Apabila sang pemimpin berhalangan, maka wakillah yang menggantikannya. Bisa diambil contoh pada kasus presiden SBY yang berhalangan hadir pada acara ulang tahun kemerdekaan negara tetangga Malaysia yang kelima puluh beberapa hari yang lalu. JK yang menggantikan saat itu.

Peran yang kedua adalah sebagai penasehat pemimpin dalam memutuskan atau mengambil langkah-langkah tertentu. Rumusan langkah-langkah pemerintahan tentunya tak lepas dari peran wakil sejak mereka bertemu atau memutuskan berpartner di pemilu atau pilkada. Walaupun biasanya sudah ada badan penasehat, tapi posisi wakil sebagai penasehat bisa lebih kuat karena perbedaan derajat kekuasaannya lebih tipis.

Peran selanjutnya dari wakil adalah sebagai cadangan jika nanti presiden berhalangan tetap, baik dari segi hukum maupun kesehatan. Begitu banyak peristiwa politik dalam sejarah dimana wakil menggantikan posisi pemimpin. Contohnya Megawati menggantikan posisi Gus Dur saat presiden tersebut dilengserkan, Habibi menggantikan Soeharto, dan Ratu Atut menggantikan Gubernur Banten yang terganjal masalah korupsi.

Dari fungsi-fungsinya ini, terlihat betapa perlunya kekompakan antara kepala daerah dan wakilnya. Kepala daerah dan wakilnya harus memiliki visi dan misi yang sama. Keberhasilan gubernur adalah juga keberhasilan wakilnya.

Melihat dari fenomena kampanye calon gubernur yang ada di sulawesi selatan ini terlihat jelas tindakan-tindakan yang mengisyaratkan ketidakkompakan antara pemimpin dan wakil sebelumnya.

Tampak iklan kampanye dari Syahrul dan Amin Syam terkadang saling menjatuhkan satu sama lain. Ada kesan "black campaign" untuk menjatuhkan citra pihak lawan. Mulai dari menyinggung masalah narkoba, sampai masalah penyakit jantung

Dari sini, masyarakat Sulawesi Selatan bisa berpikir, keduanya telah berpartner selama lima tahun, seharusnya sudah terjadi hubungan baik yang sangat erat antara keduanya. Teman baik tidak akan pernah saling menjelek-jelekkan satu sama lain, baik secara tersirat maupun tersurat. Tapi kenyataan yang terjadi di lapangan kampanye mengatakan hal sebaliknya. Melihat dari hal ini, kita bisa menyimpulkan bahwa selama ini peran wakil pimpinan dari suatu daerah terpinggirkan oleh dominasi dari pimpinannya. Peran wakil lebih sering sebagai cadangan kalau nantinya pimpinan berhalangan tetap seperti yang dicontohkan sebelumnya.

******

Mengapa posisi gubernur begitu "panas" untuk diperebutkan? Mengapa banyak orang mencalonkan diri menjadi calon? Mengapa wakil gubernur juga tertarik meningkatkan statusnya satu tingkat lagi menjadi orang nomor satu di propinsi?
Salah satu alasannya mungkin adalah keinginan untuk mengabdi kepada masyarakat. Dengan menjadi pimpinan daerah, seseorang akan memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan dan bertindak untuk kemaslahatan masyarakat yang dipimpinnya.

Tapi tidak cukup hanya oleh keinginan saja, tapi harus didukung oleh kemampuan manajemen pemerintahan yang bagus. Orang yang memiliki dua hal inilah yang seharusnya jadi pimpinan. Tapi ternyata tidak mudah memilih orang yang tepat karena pemilih sering tidak mengetahui karakter pemimpin yang dipilihnya.

Perkenalan pemimpin dalam kampanye yang terjadi, tidak selalu menjamin masyarakat mengenal baik para calon. Sudah sering terbukti bahwa para calon ternyata hanya mengumbar janji belaka. Kenyataan yang diharapkan ternyata sering tidak sesuai janji-janjinya.

Adapun alasan lainnya, bisa saja bersifat negatif. Tidak bisa dipungkiri bahwa jabatan kepala daerah sangat dekat dengan materi yang melimpah. Sering juga orang-orang berniat jadi calon hanya karena faktor ini. Mudah-mudahan yang mendaftar menjadi calon gubernur kita ini tidak memiliki niat ke arah ini.

Berminatnya wakil menjadi kepala daerah tentu sangat berkaitan dengan hal di atas. Kemungkinan besar, aspirasi dari wakil ini tidak tersalurkan dengan baik. Jadi selama ini tidak terjadi kerjasama yang baik antara pemimpin dan wakilnya.

Tidak ada masalah sebenarnya dengan kenyataan berkeinginannya wakil jadi pemimpin selama dia memiliki tujuan-tujuan yang idealis buat mengabdi kepada masyarakat. Bukan untuk alasan negatif yaitu mengejar kekuasaan dan materi.

Biar bagaimanapun, mengutip dari satu lagu rock terkenal, "wakil juga manusia". Manusia yang menjalani suatu karir, dimana setiap saat selalu ingin karirnya makin baik. Ini sesuai dengan teori maslow yang mengatakan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan aktualisasi diri setelah kebutuhan-kebutuhan lainnya terpenuhi Tidak aneh jika setelah selesai jadi gubernur, mereka juga mencalonkan diri menjadi presiden.

Namun yang disayangkan adalah ketidakkompakan antara pemimpin dan wakilnya. Ini bukanlah sikap seorang negarawan yang baik. Seharusnya mereka bisa mengesampingkan ego masing-masing dan bekerja bersama-sama demi kepentingan masyarakat.

Yang kedua adalah tidak seharusnya terjadi "black campaign", apalagi oleh mereka yang pernah berpartner selama bertahun-tahun dalam menjalankan pemerintah. Boleh jadi mereka berpikir bahwa dengan black campaign itu reputasi lawan akan jatuh, dan mereka yang akan menang. Tapi sebenarnya mereka salah besar. Masyarakat sekarang sudah banyak yang cerdas. Justru mereka yang melakukan kampanye negatif itu yang akan menurun reputasinya karena ulahnya sendiri.

Kita berdoa siapapun yang terpilih, benar- benar adalah pasangan yang paling tepat yang mau bekerja keras dengan kompak dan mendahulukan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Semoga!

Amrizal, Makassar, 8 September 2007


Partner Link :

Diabetes Signs and Symptoms to Know

Menghapal tanpa tahu artinya tak termasuk mempelajari Alquran

Menghafal Tanpa Tahu Artinya, Tak Termasuk Mempelajari Al-Qur’an!  ibtimes.id/menghafal-tanpa-tahu-artinya-tak-termasuk-mempelajari-al-quran...