Monday, November 26, 2007

Pengalaman Mengurus SIM di Makassar



Baru-baru ini saya mengurus
SIM di Poltabes Makassar. Sebenarnya saya sudah pernah memiliki SIM sebelumnya tapi karena hilang dan bukti berupa fotokopinya tidak ada, maka saya dianggap mengurus SIM baru.

Saya sudah mendengar dan merasakan sejak dahulu tentang kasus suap dalam pengurusan SIM yang sangat sering terjadi. Asal ada uang, surat izin ini mudah sekali kita dapat.

Kali ini saya berusaha untuk jadi “orang jujur”. Saya bertekad melalui jalur resmi saja. Saya ingin merasakan prosedur sebenarnya. Saya penasaran mengetahui lika-liku pengurusan SIM secara resmi.

Ternyata penawaran pengurusan SIM cepat ini sudah dimulai saat kita baru menginjakkan kaki di pintu gerbang Poltabes. Saat melapor di pintu gerbang untuk menyatakan maksud kedatangan, seorang polisi langsung menawarkan untuk “membantu”. Tapi mengingat rasa penasaran, saya menolak secara halus.

Saya kemudian mengurus surat kesehatan dengan membayar Rp. 25000,-. Setelah itu saya menuju bangunan khusus pengurusan SIM. Dalam perjalanan ke situ, seorang calo memanggil lagi “Mau urus SIM, Pak?” tanyanya. Tapi saya mengacuhkannya.

Sebelum masuk ke kantor SIM, saya menyempatkan diri membaca langkah-langkah pengurusan SIM di depan pintu. Di situ saya membaca bahwa pengurusan SIM itu sebenarnya hanya Rp. 75000,- untuk baru, dan Rp. 60000,- untuk perpanjangan. Saya berpikir lumayan murah juga karena total pembayaran saya cuma Rp 100.000,-. Ini lebih murah daripada lewat calo.

“Mau urus SIM, ya, Pak?” Seorang bapak berbaju putih berkumis tipis tiba-tiba mendatangiku.

Saya mengerti “maksud baiknya”. Saya cuma mengangguk.

“Urus SIM baru atau perpanjangan?” tanyanya lagi.

“Sebenarnya lama. Tapi karena hilang jadi saya urus baru.” Kataku.

“Lewat saya saja, Pak.” pintanya.

“Memang lewat Bapak bayar berapa?” tanyaku.

“Satu sembilan puluh saja, Pak.”

“Mahal sekali, Pak. Boleh kurang?” tanyaku ingin tahu.

“Sudah murah sekali, Pak. Ayo. Kalau mau sekarang, ayo kita ke mobil. Nanti tinggal foto saja. Cepat sekali Pak.”

“Tidak, Pak.” Kataku. “Nanti saya coba urus sendiri”.

Bapak itu segera pergi. Saya kemudian masuk dan melalui loket-loket yang ada, mulai dari pendaftaran, pengisian biodata, dan akhirnya mengikuti tes tulis.

Di ruangan tes tulis, saya hanya berdua dengan pemohon SIM lain mengikuti ujian tulis. Saya berpikir, tadi di luar kan banyak sekali pemohon SIM. Apa cuma kami berdua yang mengurus secara resmi? Kalau seperti itu, berarti memang kesalahan ini sudah diterima sebagai kebenaran bersama.

Tes tulis yang saya ikuti ternyata tidak mudah. Terdiri atas 30 pertanyaan tentang lalu lintas dan sikap berkendara yang baik. Standar kelulusan yaitu 15 jawaban benar. Saya khawatir tidak lulus karena merasa ragu dengan jawaban tentang sikap berkendara yang baik. Alhamdulillah, saya hanya salah sembilan nomor.

Selanjutnya, melangkahlah saya ke tes praktik. Tes praktik pertama berupa tes mengendara motor secara zigzag melewati tiang-tiang yang telah diatur sedemikian rupa membentuk suatu lintasan sempit selebar satu meter. Setelah gagal sekali karena grogi, saya berhasil juga melalui tes ini. Saya kemudian beralih ke tes kedua yaitu tes tanjakan dimana saya harus mengendarai motor menanjak dan tiba-tiba berhenti di tengah tanjakan. Ini bisa saya lalui dengan mudah.

Akhirnya tibalah ke tes terakhir yaitu tes isyarat tangan dan rambu-rambu lalu lintas. Alamaak! Saya sama sekali tidak tahu arti isyarat aba-aba polisi satupun. Jawaban kedua atas pertanyaan isyarat polisi dimana polisi tersebut mengangkat tangan kirinya lurus ke samping dan tangan kanannya lurus ke bawah mengantarkankan saya ke kenyataan kalau saya harus kembali minggu depannya untuk menjalani tes ulang.

Singkatnya, setelah melalui pembelajaran singkat, saya kembali ke poltabes tujuh hari kemudian untuk tes ulang. Saya mengerutkan kening tatkala polisi yang pekan kemarin mengetes bertanya secara terang-terangan. Saya sebenarnya agak takut kalau nanti tidak lulus karena minggu depannya berniat ke luar kota.

“Anda mau lanjut tes atau dibantu?” tanyanya.

Saya mulai ragu untuk melanjutkan “perjuangan” saya setelah ini.

“Memang kalau dibantu bayar berapa lagi, Pak?”

“Ya, tergantung. Bisa dua puluh, bisa lebih”

“Kalau tes lagi memang susah lulusnya, Pak?” tanyaku.

“Ya, sesuai prosedur. Atau begini saja, anda bisa memilih untuk lanjut tes, baru setelah tidak lulus lagi, anda dibantu?”

Saya mengangguk pasrah.

Benar saja. Setelah dilakukan tes isyarat tangan dan tes rambu-rambu, saya tidak lulus lagi. Sebenarnya menurut saya, ketidaklulusan ini bukan karena faktor saya. Standar yang diterapkan disitu sangat tinggi, yaitu 100 %. Saya sebenarnya cuma salah jawab satu soal saja. Tapi itu sudah menjadi penyebab ketidaklulusan. Saya pikir, pada tes apapun, sangat langka atau bahkan tidak pernah kita temui standar kelulusan setinggi itu. Saya menduga, mungkin saja ini disengaja untuk mempersulit kelulusan.

Akhirnya, saya pun memutuskan mengikuti saja “aturan main” polisi itu. Kurelakan uang 20 ribuku masuk ke kantong pribadinya. Saya cuma bisa menghela napas panjang. Bukan masalah jumlah uang sebenarnya yang saya keluhkan, tapi ketidakberesan sistem yang membuat kita pun harus ikut-ikutan melakukan kesalahan.

Dari pengalaman ini, bisa diambil hikmah tentang begitu sulitnya untuk jadi orang jujur di Indonesia di masa sekarang. Sistem yang rusak membuat semua orang menjadi rusak secara terpaksa. Saya sempat juga berpikir apakah saya salah karena cuma sendiri berbuat benar. Apakah kesalahan bisa menjadi kebenaran atas kesepakatan semua orang?

Amrizal Muchtar

Tuesday, November 13, 2007

Liputan : Andrea Hirata Tidak Suka Perpustakaan


Dunia perbukuan Indonesia belakangan ini dimarakkan oleh munculnya penulis-penulis baru yang berprestasi melahirkan karya-karya bestseller. Satu dari sekian penulis tersebut adalah Andrea Hirata, seorang pria asal Belitung yang mengisahkan perjalanan hidupnya dalam novel tetralogi Laskar Pelangi. Pada rabu, 31 November 2007, Andrea didaulat untuk membedah novel laris tersebut di Gedung Graha Pena, Makassar.
Buku Laskar Pelangi merupakan karya fenomenal dari pria yang mengaku belum pernah sekalipun menulis suatu karya sastra sebelumnya. Penjualan buku ini benar-benar mengagumkan. Sejak diterbitkan pertama kali pada September 2005 sampai Oktober 2007, buku ini telah dicetak ulang sepuluh kali.

Acara bedah novel itu tampaknya disambut hangat dan antusias oleh peminat buku di Makassar. Ini terbukti dari jumlah peserta yang tidak kurang dari tiga ratus peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, karyawan, dan ibu rumah tangga memenuhi ruang pertemuan tempat acara tersebut berlangsung. Bahkan Ilham Arif Sirajuddin, walikota Makassar, diundang dan didaulat untuk membuka acara tersebut.

“Acara ini sangat bagus dan sinergis dengan program Gerakan Makassar Gemar Membaca yang sedang dijalankan pemerintah daerah," kata Ilham dalam sambutannya. Menurutnya, banyak sekali hal positif yang bisa didapat dari kegiatan membaca. Karena itu pemerintah sangat mendukung program seperti ini. Bahkan bagi penulis asal Makassar yang berkeinginan menerbitkan karyanya akan dibantu.

Salah satu bukti yang ditunjukkan oleh Walikota adalah dengan membeli secara langsung seratus eksemplar buku PANGERAN BERKUDA PUTIH DAN SUPIRKU, karangan Islah, seorang siswi asal SMA 5 Makassar. Pembelian ini dilakukan secara simbolis di hadapan ratusan peserta.

Selain penulis buku, acara ini juga dihadiri editor buku Laskar Pelangi, Salman Faridi, yang berasal dari penerbit BENTANG PUSTAKA Yogyakarta. Bersamanya, Andrea Hirata membedah bukunya dengan gaya yang santai. Sesekali Andrea menyegarkan suasana acara dengan lelucon-lelucon mengejutkan. Hal ini tidak mengherankan, mengingat ini adalah bedah buku ke 98 yang dia lakukan di seluruh Indonesia.

Laskar Pelangi sendiri mengisahkan kehidupan di sebuah SD yang hanya memiliki sepuluh murid, salah satunya adalah Andrea. Tragisnya, kondisi SD yang berada di daerah pedalaman Belitung tersebut sangat memprihatinkan karena hampir roboh. Tapi berkat kegigihan murid-murid tersebut dan jasa Ibu Muslimah, satu-satunya guru di sekolah tersebut yang rela mengajar mereka bertahun-tahun tanpa digaji, mereka semua berhasil menjalani pendidikan.

Kisah Laskar Pelangi sangat mengharukan dan mengandung nilai-nilai edukasi yang tinggi bagi pembaca. Walaupun sudah puluhan kali membedah bukunya, tampak sang penulis masih terdengar terharu saat menceritakan pengabdian Ibu Muslimah dalam mengajar mereka. Salah satu yang dia ceritakan adalah di saat mereka bersepuluh sudah berada di dalam kelas untuk belajar dan ternyata Ibu Muslimah belum datang-datang. Hujan yang deras memperburuk suasana saat itu. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan anak-anak SD yang terkurung dalam suatu gedung reot di tengah hujan lebat tanpa ada orang dewasa di dekat mereka. Di sini pengabdian Ibu Muslimah benar-benar terlihat. Ternyata guru tersebut tetap datang mengajar walaupun hanya dengan berpayungkan daun pisang. Disinilah terpatri niat dalam hati Andrea kecil untuk menuliskan pengabdian gurunya tersebut dalam suatu buku.

Akan tetapi, niat tersebut ternyata tidak segera dia dapat wujudkan. Karena kesibukan setelah bekerja, niat tersebut sempat terlupakan. Musibah Tsunami Aceh 2004 menggugah kembali semangatnya. Saat dia jadi relawan di Serambi Mekah, dia mendapati begitu banyak sekolah-sekolah rubuh di kota itu. Yang paling menggetarkan perasaannya saat dia melihat spanduk yang bertuliskan AYO SEKOLAH, JANGAN MENYERAH. Dia merasa sangat sedih dan segera teringat kondisi sekolahnya dahulu. Selepas pulang dari Aceh, Andrea segera menulis kisah hidupnya tersebut. Dan sungguh luar biasa, hanya dalam tiga minggu saja draft pertama novel setebal 700 halaman tersebut selesai.

Awalnya pria yang bekerja di TELKOM Bandung ini sama sekali tidak ada niat untuk menyebarluaskan novel ini. Andrea hanya mencetak fotokopi untuk kalangan terbatas. Tapi seorang teman yang melihat prospek buku ini diam-diam mengirim ke penerbit Bentang atas nama Andrea. Fantastis, dalam hitungan minggu, novel ini laris manis hingga harus dicetak ulang.

Begitu banyak komentar yang datang merespon kehadiran buku Laskar Pelangi. Kebanyakan bersifat memuji kehadiran buku yang lain dari yang lain ini. Hal ini memicu sang penulis melanjutkan menulis kisah hidupnya yang menarik hingga menjadi tetralogi. Baru tiga yang telah terbit yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Semuanya telah berkali-kali cetak ulang. Edensor sendiri yang edisi pertamanya terbit Mei 2007 telah mengalami empat kali cetakan. Buku terakhir dari rangkaian tetralogi yang berjudul Maryamah Karpov belum diterbitkan.

Dalam bedah novel gratis ini, beragam peserta mengajukan pertanyaan kepada Andrea. Salah satunya Aan mengomentari bahwa dia sangat tidak setuju kalau cerita Laskar Pelangi difilmkan karena unsur-unsur literasi dari buku akan hilang. Andrea dalam hal ini berkomentar bahwa dia akan ikut berjuang keras agar ceritanya ini benar-benar akan berjalan sesuai konteks novelnya dan tidak diseret arus kapitalis yang menyebabkan suatu karya menjadi tidak bermutu.

Satu hal menarik yang terungkap dari bedah novel ini adalah pendapat Andrea yang mengatakan tidak setuju dengan konsep perpustakaan yang ada selama ini. Menurutnya konsep perpustakaan itu tidak akan memecahkan persoalan minat baca di Indonesia karena tidak meliput ke semua orang dan semua area. Banyak sekali orang yang tidak bisa mendatangi perpustakaan dan sebaliknya kualitas perpustakaan yang ada sering tidak membuat pengunjungnya meraih apa yang mereka butuhkan.
Andrea lebih menyukai konsep learning centre dimana sumber-sumber pengetahuan seperti guru-guru langsung didatangkan ke daerah yang membutuhkan. Ini akan lebih tepat sasaran, menurut Andrea yang dalam bedah novel ini menantang kepada peserta untuk menjadi guru-guru tersebut.

Bedah novel ini diharapkan bisa merangsang minat baca dan menulis masyarakat makassar sehingga bisa bakat-bakat yang masih kuncup di kota Daeng ini bisa mekar mewarnai dunia perbukuan kita yang mulai menggelora.


Amrizal Muchtar

Saturday, November 10, 2007

Artikel: Indonesia Kekurangan Pahlawan

Seperti anak SD, kalau kita ditanya tanggal 10 November itu diperingati sebagai hari apa, kita serentak akan berseru, Hari Pahlawan. Demikian melekatnya tanggal tersebut dengan nama peringatannya. Hampir semua orang, dari yang tidak pernah mengenal alfabet sampai kepada guru-guru besar, menghapal mati hal ini. Namun kepopulerannya ternyata hanya sebatas kulit.

Hari Pahlawan memang rutin diperingati di seluruh Indonesia, tapi itu tidak lebih dari pada seremonial belaka. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak dihayati dan tidak mewarnai aktivitas kehidupan bermasyarakat. Kehidupan dinamis ala barat, yang sangat mendewakan individu, tampak berperan penting sebagai penyebab memudarnya nilai-nilai kepahlawanan tersebut. Orang-orang, terutama di lingkungan perkotaan, sering menunjukkan sifat individualisme, kurang memperdulikan orang lain di sekitarnya dan hanya berpusat pada kepentingan diri sendiri.

Berkaitan dengan judul tulisan, mungkin akan terbetik pertanyaan mengapa sampai dikatakan Indonesia kekurangan pahlawan. Bukankah taman makam pahlawan sudah berjubel dengan nisan-nisan yang indah? Bukankah kita bisa menikmati kemerdekaan dari penjajah karena banyaknya pahlawan yang rela mengorbankan dirinya dan hartanya untuk bangsa?

Berbicara masalah pahlawan, tentu tak bisa dilepaskan dari pengertian tentang pahlawan itu sendiri. Selama ini, kita sering salah dalam menetapkan siapakah yang pantas disebut pahlawan di negeri ini. Kita hanya memandang bahwa pahlawan adalah orang-orang yang pernah berjuang membebaskan negeri ini dari cengkraman kaum penjajah. Malah ada yang lebih lucu lagi dimana banyak orang yang beranggapan bahwa seseorang baru disebut pahlawan apabila orang itu berjasa bagi negara dan orang tersebut sudah meninggal. Itulah sebabnya, banyak kasus ironis di negeri ini, di mana seseorang yang pernah mati-matian membela bangsa dan negara, selepas kemerdekaan, hidup dengan sangat melarat dan tak terperhatikan. Baru pada saat meninggal, orang-orang mengingat dan mengagung-agungkannya. Malah ada yang sampai mati pun tidak terperhatikan.

Kadang juga ada yang pikirannya sedikit lebih luas, dengan menganggap bahwa pahlawan itu tidak cuma ada di zaman kemerdekaan saja. Sekarang pun, di masa pembangunan, banyak pahlawan-pahlawan di tanah air ini. Sebagai contoh, Susi Susanti (bidang olahraga). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (politik), Abdullah Gymnastiar (bidang agama). Pokoknya semua orang-orang ternama yang mengabdikan dirinya untuk bangsa. Tapi sebenarnya, pemahaman pahlawan seperti ini masih sempit.

Yang benar, pahlawan adalah semua orang yang rela dan mau membantu atau berbuat baik kepada orang lain, bangsa ataupun negara tanpa adanya rasa pamrih. Tidak peduli baik orang terkenal maupun tersembunyi di hutan belantara, baik yang meninggal maupun yang masih hidup. Mereka merasa bahwa mereka ini hidup tidak sendiri. Mereka satu kesatuan dengan masyarakat dan bangsa. Mereka merasa bahwa orang lain adalah saudara yang wajib mereka bantu. Tidak akan tenang hati mereka kalau orang lain kesusahan. Itulah hakikat pahlawan yang sebenarnya.
Dari batasan ini, sudah jelaslah, sangat tepat kalau dikatakan bahwa Indonesia dewasa ini kekurangan pahlawan. Sebagian besar orang hanya hidup untuk diri sendiri dan keluarganya. Sikut sana, sikut sini, biarkan saja orang lain seperti apa adanya, asal mereka sendiri dapat hidup dengan enak. Mereka tidak merasa bahwa kehidupan orang lain adalah bagian dari kehidupan mereka juga. Egois atau individualis adalah istilah yang tepat.

Itulah salah satu hal yang memperpuruk kehidupan ekonomi dan sosial bangsa ini yang sudah carut-marut. Kurangnya jiwa kepahlawanan, menyebabkan semakin melebarnya gap antara si kaya dan si miskin. Yang kaya semakin makmur, yang miskin semakin melarat. Kurangnya jiwa kepahlawanan juga menjadi sebab, tidak dinikmatinya kekayaan alam Indonesia yang konon berlimpah secara merata oleh masyarakat. Pihak yang berkuasa, karena mementingkan diri sendiri, mengelola kekayaan tersebut dengan seenak perut, bahkan mereka rela menjual kekayaan tersebut ke pihak asing, sehingga otomatis hasilnya lari ke negara lain. Jadilah kita seperti tikus yang mati di lumbung padi.

Sejenak, kita perlu menapak tilas asal muasal hari pahlawan itu sehingga kita akan semakin mengerti betapa pentingnya jiwa kepahlawan ditumbuhkan dalam diri kita. Secara ringkas,diceritakan sebagai berikut:

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Ini setelah sekutu berhasil menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Dengan menyerahnya Jepang, praktis selama beberapa saat Indonesia bebas dari pendudukan negara manapun. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pemuka-pemuka bangsa untuk memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Dengan proklamasi ini, semakin bergeloralah tekad seluruh bangsa Indonesia untuk merdeka dan mempertahankan kemerdekaan tersebut. Karena itu tatkala, tentara Inggris datang pada tanggal 15 September 1945 di Jakarta dan 25 Oktober 1945 di Surabaya dengan maksud melucuti senjata tentara Jepang dan sekaligus mengembalikan Indonesia menjadi jajahan Belanda, maka Indonesia bereaksi keras.

Peristiwa di hotel Yamamoto, Surabaya, benar-benar mempertegas maksud bahwa Indonesia akan segera dikembalikan ke tangan Belanda. Saat itu, dikibarkan bendera Belanda Merah-Putih-Biru di hotel Yamamoto. Rakyat Surabaya marah besar, dan terjadilah insiden tunjungan untuk menurunkan bendera tersebut. Insiden ini menyulut bentrokan-bentrokan antara tentara Inggris dengan badan-badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat.

Bentrokan-bentrokan itu meluas dan memuncak tatkala pimpinan tentara Inggris di Surabaya, Brigadir Jendral Mallaby pada tanggal 30 Oktober terbunuh. Akibatnya, pengganti Brigadir Jendral Mallaby, Mayor Jendral Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia bersenjata harus melapor dan meletakkan sejata di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum yaitu jam 6 pagi tanggal 10 November 1945.

Ini merupakan penghinaan yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Tentu saja ultimatum itu ditolak. Akibatnya, pada tanggal 10 November 1945, tentara Inggris melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Surabaya dibombardir dengan bom, ditembaki secara membabibuta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Akan tetapi Tentara Keamanan Rakyat dan badan-badan perjuangan serta dibantu oleh rakyat terus mengadakan perlawanan. Mereka rela mengorbankan hidup mereka yang sangat tidak ternilai demi kemerdekaan.

Dari peristiwa bersejarah tersebut, tampak jelas betapa besar pengorbanan yang mereka lakukan demi sesuatu yang sangat berharga yaitu kemerdekaan. Begitu besar jasa-jasa mereka terhadap kehidupan kita. Mereka benar-benar pahlawan sejati.

Seharusnya diri kita pun bisa menerapkan rasa kepahlawanan seperti mereka dalam kehidupan kita. Kita tidak harus bertempur seperti mereka untuk jadi pahlawan. Situasinya sekarang lain. Kalau dulu mereka menjadi pahlawan untuk merebut kemerdekaan, sekarang kita menjadi pahlawan untuk mengisi kemerdekaan. Itu adalah sama mulianya dengan nilai kepahlawanan mereka.

Memang, hati kita lebih sering terusik jika ada provokasi dari luar. Rasa kepahlawanan kita untuk membela milik kita secara otomatis muncul jika menghadapi sesuatu yang mengancam keberadaannya. Pada peristiwa bersejarah di atas, ada provokasi dari penjajah, sehingga muncul semangat untuk membela negara sampai titik darah penghabisan. Contoh lain, masih kita ingat, saat panas-panasnya kasus Ambalat di perbatasan antara Malaysia dan Indonesia. Serta merta, ratusan bahkan ribuan orang mendaftarkan diri secara sukarela untuk menghadapi Malaysia kalau sampai negeri jiran tersebut menginvasi wilayah Indonesia.

Tapi kita tidak lantas hanya mempersempit lingkup kepahlawanan seperti itu saja. Nilai-nilai kepahlawanan yang kita terapkan di kala damai, dengan cara bersedia menolong dan berbuat kebaikan kepada orang lain, bangsa, dan negara tanpa pamrih, malah lebih bernilai dibandingkan nilai-nilai kepahlawanan saat perang. Kita berharap saja semoga semangat ramadan yang baru saja kita tinggalkan tidak pudar di tengah jalan dan bisa menginspirasi kita untuk terus mengobarkan semangat kepahlawanan dengan jalan berbuat kebaikan di dalam masyarakat, bangsa, dan negara tanpa mengharapkan pamrih.

Amrizal Muchtar
Memperingati hari Pahlawan 10 November 2007

Partner Link : Natural Diabetes

Friday, November 9, 2007

Dungu tidak berarti Idiot

"Kenapako tidak ikut, Dongo! Ramai sekali acaranya'."

(Kenapa kamu tidak ikut, dungu! Acaranya ramai sekali)

Begitulah salah satu bentuk kalimat yang biasa djumpai di Makassar. Memang struktur bahasanya sangat kacau, tapi di sinilah letak keunikannya. (Baca tulisan ipul berjudul "Makan mi!")

Mendengar kata dungu di atas, orang luar yang tidak terbiasa dengan logat Makassar kemungkinan besar akan tersinggung. Kasar sekali kedengarannya. Kenapa sih kamu bilang saya dungu? Saya tidak dungu! Begitu reaksi dari mereka.

Tapi jika mereka mengerti dengan maksud si pembicara, mereka mungkin langsung akan tertawa. Atau jika mereka lama berinteraksi dengan orang-orang Makassar, bisa-bisa mereka ikut-ikutan memakai kata ini.

Dungu (dongo') di sini memang berarti bodoh dalam Bahasa Indonesia. Tapi sama sekali tidak bermaksud menghina. Tidak bermakna bahwa lawan bicara itu idiot atau berIQ jongkok. Ini hanyalah salah satu ucapan bernada "sayang" atau "peduli". Contoh di atas mungkin bisa diartikan sebagai berikut:

Alangkah sayangnya atau alangkah ruginya kamu tidak ikut acara itu. Acara itu begitu ramai. Di sana banyak teman-teman seangkatan kita yang sudah lama tak kita jumpai.

Sungguh suatu istilah yang aneh bukan? Tapi ini mungkin bisa dianggap sebagai majas ironi saja, yakni penggunaan kata yang bertolak belakang untuk mengungkapkan makna sebenarnya. Bisalah dibilang seperti kalimat yang ditujukan pada orang yang sering terlambat bangun sebagai berikut:

"Rajin sekali kamu ya. Baru jam sebelas pagi sudah bangun."

Kalimat ini bermaksud sama dengan kalimat pertama tadi. Tapi ini berbentuk kalimat yang seolah-olah halus untuk menyampaikan makna yang kasar. Tapi kalimat pertama di atas menggunakan kata yang kasar untuk menyampaikan makna yang baik.

Ada satu pengalaman lucu saat sepupu menyuruh saya datang ke suatu acara keluarga.

"Pergimako ke pengantin, dongo! Banyak kue. Enak-enak kuenya." kata dia. (artinya: pergilah ke acara pengantin itu, nanti kamu akan bisa menikmati banyak kue yang enak-enak)

"Tidak mau ja' deh. Kalau pergika' berarti saya dongo'! Saya tidak mau jadi orang dongo'! balasku bercanda.

(artinya: Saya tidak mau pergi karena kalau saya pergi berarti saya dungu. Saya tidak mau jadi orang dungu."

"Sori. sori" katanya tertawa. "Kebiasaan, bilang dongo'"


dr. Amrizal Muchtar, S. Ked
www.geocities.com/roycomasako

Partner Link:

Diabetes Signs and Symptoms to Know

Menghapal tanpa tahu artinya tak termasuk mempelajari Alquran

Menghafal Tanpa Tahu Artinya, Tak Termasuk Mempelajari Al-Qur’an!  ibtimes.id/menghafal-tanpa-tahu-artinya-tak-termasuk-mempelajari-al-quran...