Thursday, May 24, 2007

Olahraga untuk Penderita Diabetes Mellitus

Olahraga untuk Penderita Diabetes Mellitus
Oleh: Amrizal Muchtar
(Tulisan ini pernah dimuat di Harian Fajar, Makassar)

Diabetes mellitus atau lazimnya disebut penyakit kencing manis kini menjadi momok bagi masyarakat. Ini disebabkan oleh karena diabetes dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi yang di mata awam sangat mengerikan, yaitu berupa kaki diabetes yang tidak bisa sembuh sehingga harus diamputasi, tekanan darah tinggi, kerusakan jantung, kerusakan otak, kebutaan, sampai kehilangan kesadaran atau koma. Ironisnya, jumlah penderita penyakit gula ini semakin meningkat setiap tahun. Penelitian epidemiologis menyebutkan bahwa prevalensi penyakit ini pada 1998 di Makassar sudah mencapai 2, 9 % dari penduduk berusia di atas lima belas tahun.
Sebenarnya komplikasi-komplikasi di atas tidak perlu terlalu ditakutkan kalau penderita menyadari atau mengetahui dengan baik pengelolaan penyakit ini. Ada tiga macam pengelolaan diabetes yaitu dengan mengatur pola makan, latihan jasmani, dan mengkonsumsi obat-obat pengendali gula darah secara teratur. Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah pengelolaan yang kedua yaitu latihan jasmani atau olahraga.
Olahraga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perawatan diabetes. Banyak sekali manfaat yang diperoleh dari olah raga untuk penderita. Salah satunya, olahraga terbukti bisa menurunkan kadar gula darah penderita diabetes. Pengaruh olahraga pada kontrol gula darah telah dibuktikan pada beberapa studi. Menurut studi-studi tersebut, olahraga meningkatkan sensitifitas insulin sehingga ambilan glukosa darah meningkat dan otomatis kadar gula darah berkurang.
Olahraga yang bisa dilakukan ada beberapa macam. Olahraga ringan yaitu berjalan kaki selama 30 menit, olahraga sedang adalah jalan cepat selama 20 menit, dan olahraga berat adalah jogging. Tentu saja tidak semua olahraga ini boleh dilakukan oleh setiap penderita karena stadium penyakit mereka belum tentu sama. Dengan intensitas latihan 3-4 kali seminggu, terbukti HbA1c, yaitu penanda diabetes kalau kadarnya lebih dari 7 %, dapat turun sampai 20 %. Penurunan terbaik dihasilkan pada kelompok penderita diabetes ringan dan kelompok resisten insulin, yaitu penderita yang insulin dalam tubuhnya telah resisten terhadap glukosa, yang telah mengubah gaya hidupnya menjadi gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat yang dimaksud di sini yaitu pengaturan pola makan yang sesuai kesehatan.
Penderita diabetes yang tidak diterapi dengan baik dapat terkena penyakit jantung koroner (PJK). Tapi dengan olahraga secara teratur, faktor resiko PJK yaitu hiperinsulinemia, hipertensi, kelainan metabolisme seperti hipertrigliseridemia, HDL rendah, LDL dan FFA tinggi dapat diatasi. Dengan demikian, potensi terjadinya PJK ini dapat dikurangi.
Pada diabetes tipe 2 dapat terjadi gangguan aktifitas fibrinolis. Dengan olahraga aerobic (aerobic fittness) secara teratur, terbukti gangguan aktifitas fibrinolisis dapat diperbaiki. Akan tetapi, mekanisme yang mendasari hubungan ini belum bisa dijelaskan.
Pengaruh lain olahraga terhadap diabetes yaitu dapat menurunkan berat badan pada penderita diabetes yang pada umumnya memang memiliki tubuh yang gemuk. Menurunnya berat badan ini terutama berkaitan dengan perbaikan dari metabolisme tubuh dan pemakaian lemak tubuh secara berlebihan pada saat olahraga.
Yang menarik dari pengaruh olahraga ini yaitu bahwa ternyata olah raga dapat juga mencegah atau menunda manifestasi diabetes pada orang yang belum menderita tetapi mempunyai resiko tinggi terhadap diabetes tipe 2 di masa depannya. Salah satu contoh orang yang beresiko tinggi ini adalah orang yang punya turunan penderita diabetes.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa olahraga pada penderita diabetes dapat pula berdampak buruk. Olahraga ternyata dapat pula menyebabkan penyakit-penyakit yang justru ingin dihindari tadi. Akan tetapi itu hanya terjadi kalau dalam melakukan aktifitas olahraga keadaan fisik tubuh tidak diperhatikan . Karena itulah, diperlukan evaluasi awal sebelum berolahraga.
Evaluasi awal sebelum olahraga sangat penting. Tujuannya adalah menemukan berbagai komplikasi yang ada yang dapat menjadi pemicu timbulnya cedera atau dampak buruk waktu berolahraga. Selain itu, evaluasi juga diperlukan untuk mengetahui ragam dan dosis olahraga serta perlu tidaknya pengawasan saat melakukan olahraga pada individu tertentu.
Untuk penderita yang telah diketahui menderita penyakit jantung koroner, hendaknya olahraga dilakukan di bawah bimbingan seorang supervisor yang akan menilai dampak yang mungkin timbul seperti kelainan irama jantung atau kelainan lain yang mungkin terjadi akibat iskemia atau kekurangan oksigen pada saat berolahraga.
Bagi penderita yang telah diketahui menderita kelainan mata (retinopati), dianjurkan untuk menghindari olahraga berat yang bersifat anaerobik atau membutuhkan banyak oksigen seperti joging. Hal ini disebabkan karena olahraga ini dapat menimbulkan perdarahan retina (vitrous bleeding), atau timbulnya robekan retina (traction retina detachment).
Untuk diabetes yang disertai kelainan ginjal (nefropati) , tidak diketahui apakah juga memerlukan pembatasan olahraga seperti pada PJK dan retinopati. Tapi secara umum, agaknya diterima pendapat (walau alasan kurang jelas) sebaiknya tidak melakukan olahraga yang berat kalau sudah disertai komplikasi nefropati.
Bagi diabetes melitus yang disertai kehilangan rasa pada kaki (neuropati perifer) dianjurkan untuk menghindari olahraga yang bersifat weight bearing exercise atau olahraga yang mengandalkan kaki, seperti olahraga di atas treadmill atau alat jalan listrik, jalan kaki dalam waktu yang lama, jogging dan naik tangga. Olahraga yang dianjurkan antara lain renang, bersepeda, dan dayung.
Untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan berolahraga, maka setelah malakukan evaluasi terhadap komplikasi-komplikasi yang mungkin timbul tadi, juga perlu dilakukan persiapan yang teliti. Setiap aktivitas olahraga harus selalu diawali pemanasan (warming up), dan diakhiri dengan pendinginan (cooling down), masing-masing dengan waktu 5-10 menit.
Pemanasan dapat dilakukan dengan low grade intensity aerobic exercise misalnya jalan kaki atau bersepeda, dan selanjutnya diikuti dengan stretching otot-otot yang nantinya aktif dilatih selama 5-10 menit. Pendinginan dimaksudkan untuk mengembalikan denyut jantung ke keadaan sebelum olahraga dilakukan.
Persiapan untuk mencegah timbulnya lecet kaki waktu berolahraga juga sangat penting. Ini terutama untuk mencegah timbulnya komplikasi kaki diabetik, yaitu kaki yang membusuk karena infeksi yang tidak dapat diobati. Untuk hal ini perlu diperhatikan pemilihan sepatu olahraga, penggunaan kaos kaki khusus, pemakaian jeli silika atau kaos kaki poliester untuk perlindungan kaki.
Selain itu juga dianjurkan mengkonsumsi cairan secukupnya sebelum dan selama latihan untuk mengganti cairan yang hilang. Terakhir, kalau selama olahraga penderita diabetes mengalami kelemahan atau kekurangan tenaga yang berarti, itu tandanya terjadi hipoglikemia atau penurunan kadar glukosa darah. Karena itu setiap olahraga, jangan lupa membawa gula-gula manis dan makanlah kalau merasakan hipoglikemi tersebut.

Partner Link:

1. Low Diet for Diabetes Mellitus


Buku sebagai gudang ilmu

BUKU SEBAGAI GUDANG ILMU
Menyambut Hari Buku Sedunia, 24 April 2006
Oleh: Amrizal Muchtar
Peminat Masalah Sosial


Istilah “buku adalah gudang ilmu” sampai saat ini masih sering terdengar. Istilah ini serupa dengan istilah “buku adalah jendela dunia”. Keduanya, entah dikarang oleh siapa, dimaksudkan untuk menekankan bahwa buku memang merupakan sesuatu yang amat sangat penting bagi kehidupan manusia. Akan tetapi, melirik dari dunia perbukuan di Indonesia saat ini, tampak jelas bahwa istilah pertama di atas mengalami perubahan makna yang amat memprihatinkan. Layaknya gudang yang merupakan sebuah ruangan di rumah yang jarang dikunjungi oleh anggota keluarga, demikian pulalah keadaan buku-buku di Indonesia. Walau tidak ada yang mengingkari banyaknya ilmu pengetahuan yang dikandung oleh buku, tapi karena minat baca yang kurang, maka buku hanya menjadi tempat penimbunan atau gudang ilmu pengetahuan.
Sudah jadi rahasia umum kalau kondisi perbukuan di Indonesia sangat carut-marut. Begitu banyak masalah yang melatarbelakangi hal ini. Bisa disebutkan, mulai dari budaya membaca yang kurang, produksi buku yang langka, sampai ke masalah perpustakaan yang bisa membuat kita mengelus dada tanda prihatin.
Dari dahulu sampai sekarang, buku memegang peranan sangat vital bagi manusia. Tanpa buku, mungkin manusia akan tetap hidup seperti manusia prasejarah yang kebanyakan mengandalkan hidupnya dari alam. Tanpa buku, tidak mungkin manusia mencapai kehidupan modern seperti sekarang ini. Di bukulah orang-orang pintar dunia menuliskan pengalaman, pemikiran dan teori-teori mereka. Itulah yang dimanfaatkan oleh orang-orang sesudahnya, makin lama makin dikembangkan, dan jadilah pengetahuan dan teknologi seperti sekarang yang manfaatnya telah dirasakan oleh hampir seluruh umat manusia.
Peranan buku semakin besar dengan semakin meluasnya sistem globalisasi di masa sekarang. Karena menyadari hal itulah maka masyarakat di negara modern semakin menghargai buku. Mereka sadar bahwa pengetahuan setiap saat selalu berkembang. Tanpa sering membaca, mereka dengan cepat akan ketinggalan jauh. Itulah sebabnya mereka sejak dahulu telah membudayakan kegiatan membaca pada diri dan keluarga mereka.
Akan tetapi, kondisi serupa ternyata tidak terjadi di negeri tercinta ini. Masyarakat kita masih saja teguh dengan tradisi lisan yang kental. Budaya ngobrol masih menjamur dimana-mana. Sering kita jumpai di pinggir-pinggir jalan para anak muda bercengkerama tidak karuan hanya untuk menghabiskan waktu kosong yang tercipta karena tidak adanya pekerjaan. Ini tentu saja sangat berbeda dengan prinsip masyarakat modern yang sangat menghargai waktu. Waktu adalah uang, begitulah prinsip mereka. Sebegitu pentingnya sehingga sedapat mungkin waktu kosong harus dimanfaatkan. Salah satunya dengan membaca.
Memang kalau mengamati dunia perbukuan di Indonesia, akan kita jumpai fakta-fakta yang mencengangkan. Kesenjangan kualitas perbukuan Indonesia dengan negara lain termasuk negara Asia Tenggara sangat jauh. Taufik Ismail, sastrawan ternama, setelah meneliti perbandingan jumlah bacaan siswa SMU di beberapa negara menemukan bahwa jika dibandingkan, jumlah bacaan siswa SMU di Amerika mencapai 30-an buku, di Malaysia 6 buku dan di Indonesia 0 buku.
Dalam hal produksi buku pun, Indonesia masih ketinggalan jauh. Malaysia yang nota bene jumlah penduduknya hanya 10 persen dari Indonesia menghasilkan 7000 judul buku setiap tahun. Thailand menghasilkan 10000 judul buku pertahun. Adapun Indonesia yang merupakan negara terbesar di Asia Tenggara dan memiliki jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia hanya memproduksi paling tinggi 5800 buku pertahun.
Ada satu lagi fakta yang patut dicermati. Menurut data yang disajikan Kepala Sub-Bidang Kerjasama Perpustakaan Nasional RI, Sauliah, pengguna buku koleksi sumbangan dari PBB dan Bank Dunia sangat minim. Dalam rentang waktu antara 1995 hingga 1999, buku sumbangan badan internasional tersebut hanya dibaca oleh 536 orang. Kalangan pembaca terbesar adalah pelajar dan mahasiswa. Dari jumlah itu pun ada kecenderungan jumlah pembaca buku-buku koleksi sumbangan dari PBB/Bank Dunia itu dari tahun ke tahun semakin menurun. Jika tahun 1995 tercatat 161 pembaca, tahun 1996 tinggal 134 pembaca. Tahun berikutnya, 1997, turun lagi menjadi hanya 76 pembaca. Meski tahun 1998 sempat naik jadi 84 pembaca, tetapi tahun 1999 kembali turun menjadi 81 pembaca. (Kompas, 1 februari 2000)
Fakta-fakta kepayahan dunia perbukuan kita di atas memang memprihatinkan dan memalukan mengingat semboyan yang selalu digemborkan bahwa kita adalah bangsa besar dan kaya. Tapi itulah kenyataannya. Banyak faktor yang mendasari hal ini dan sifatnya nasional. Faktor-faktor itu terjadi di seluruh nusantara. Itulah sebabnya sehingga ini menjadi masalah yang tidak mudah untuk diatasi.
Salah satu faktornya yaitu kurangnya minat baca di kalangan masyarakat Indonesia. Seperti disebutkan di atas, budaya lisan masih sangat mendominasi, sehingga budaya tulisan sukar mengambil alih. Kesadaran untuk meraih ilmu pengetahuan dari buku-buku masih sangat kurang.
Minat baca tentulah bukan barang yang mudah dibentuk hanya dengan suruhan atau perintah sekali saja. Minat baca berkaitan dengan kebiasaan. Jadi tentulah minat baca harus dipupuk sedini mungkin. Akan tetapi kenyataan yang ada menunjukkan hal sebaliknya. Jarang sekali anak-anak Indonesia yang dibimbing untuk suka membaca. Hanya sekitar 15 persen orang tua yang menaruh perhatian pada kemampuan dan kesukaan membaca anak. Sisanya 85 persen diberikan oleh guru. Ini berbeda jauh dibandingkan dengan Amerika. Di negara maju itu sebagian besar waktu belajar siswa dihabiskan bersama bimbingan orang tua.
Faktor lain yang memperparah kelesuan perbukuan di negeri ini adalah berkembangnya teknologi pertelevisian. Tak dapat dipungkiri bahwa media televisi sudah sangat mempengaruhi kegiatan manusia. Media ini bersifat progresif dan sangat menggoda manusia untuk betah duduk berlama-lama di depannya. Dampaknya tentu saja pada habisnya waktu efektif yang mungkin saja bisa digunakan untuk kegiatan lain seperti membaca.
Pengaruh televisi ini tidak nampak di Indonesia saja. Anak-anak sekolah di negara maju pun yang nota bene punya tradisi membaca yang tak kepalang, menurut sejumlah penelitian, menghabiskan waktunya 60-90 jam perpekan di depan televisi. Bisalah dipikirkan, kalau di negara maju saja seperti itu, bagaimana pula dengan Indonesia yang masih erat dengan tradisi lisan yang sejalan dan sebangun dengan wadah komunikasi televisi.
Selain masalah budaya dan teknologi, faktor perpustakaan juga tidak boleh diacuhkan. Faktor ini ternyata memegang peranan besar juga dalam kepayahan dunia perbukuan Indonesia. Perpustakaan merupakan sarana termudah dan termurah bagi masyarakat untuk dapat membaca buku. Akan tetapi ternyata kondisi perpustakaan di Indonesia sama hancurnya dengan kondisi perbukuan itu sendiri. Kondisi perpustakaan di Indonesia sangat memprihatinkan dan tertinggal, baik dari sisi kumpulan bahan bacaan maupun sumber daya pengelolaan. Diidentifikasi dari 110 ribu sekolah di Indonesia, yang sudah mempunyai perpustakaan hanya sekitar 18% saja. Demikian pula dari 64.000 desa, ternyata yang mempunyai perpustakaan hanya 22%. Sedangkan jumlah unit perpustakaan di berbagai departemen dan perusahaan, baru sekitar 31% dari jumlah yang diperlukan. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya perpustakaan yang belum punya standardisasi dan masih sangat kurangnya tenaga profesional perpustakaan. (Media Indonesia, 8 September 2000)
Menurut Kepala Bidang Pembinaan Sumber Daya Perpustakaan Nasional, Rachmat, dari sekitar 200 ribu unit sekolah dasar di Indonesia cuma 20 ribu yang memiliki perpustakaan standar. Demikian pula dengan SLTP. Dari sekitar 70 ribu unit SLTP, cuma 36 persen yang memenuhi standar. Adapun untuk SMU, cuma 54 persen yang punya perpustakaan berkualitas standar. Kemudian untuk perguruan tinggi, dari sekitar 4 ribu perguruan tinggi di Indonesia, cuma 60 persen yang memenuhi standar. Sedangkan dari sekitar 1.000 instansi, diperkirakan baru 80 sampai 90 persen yang memiliki perpustakaan dengan kualitas standar. (Republika, 20 Mei 2000)
Kondisi ini tentu sangat erat kaitannya dengan minimnya anggaran perpustakaan dari pemerintah. Saat ini anggaran perpustakaan hanya Rp 1,5 milyar untuk setiap provinsi. Adapun idealnya, harusnya Rp 2,5 milyar. (Kompas, 31 Oktober 2000)
Dari semua kenyataan di atas, semakin jelaslah kesuraman dunia perbukuan di Indonesia. Akan tetapi hal itu janganlah membuat kita menyerah. Semuanya itu masih bisa diatasi asal ditangani secara serius. Semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat harus ikut andil di dalamnya. Kualitas perpustakaan harus ditingkatkan, dan kebijakan undang-undang perbukuan harus dipantau lagi dan diperbaiki sehingga harga buku pun bisa terjangkau oleh masyarakat. Dua hal terakhir ini merupakan urusan pemerintah. Adapun yang bisa kita lakukan sebagai anggota masyarakat setidak-tidaknya adalah dengan membudayakan minat baca di diri, dan keluarga kita. Seringlah-seringlah mengunjungi “gudang ilmu” itu agar tidak lagi menjadi gudang yang sebenarnya.

Partner Link:

1. Low Diet for Diabetes Mellitus

Bom itu bernama PJK

Bom Itu Bernama PJK
Oleh: Amrizal Muchtar

Sungguh ironis! Seluruh penduduk dunia terbelalak kaget ketika bom meledak di Legian, Bali, 12 Oktober 2002 lalu, dan menewaskan lebih dari seratus delapan puluh orang. Demikan pula halnya dengan serangan bom Amerika terhadap Irak yang mengorbankan ribuan nyawa tak berdosa. Akan tetapi, mereka tenang-tenang saja terhadap bom yang telah menewaskan jutaan orang di muka bumi yang mungkin saja juga berada di dalam tubuh mereka. Ya, bom itu adalah penyakit jantung koroner (PJK).
PJK memang pantas dijuluki sebagai bom, atau lebih tepatnya bom tubuh. Ini dikarenakan sifatnya yang progresif. Penyakit ini, jika tidak diterapi dengan baik, akan semakin gawat seiring dengan berjalannya waktu, sampai akhirnya menimbulkan sentakan yang berakhir dengan kematian mendadak.
PJK telah menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di beberapa negara. Di Amerika Serikat, PJK berada di peringkat pertama. Hampir 14 juta orang Amerika menderita penyakit jantung dan hampir 500.000 orang meninggal karenanya setiap tahun. Laporan Asosiasi Jantung Amerika Serikat di Eropa menyatakan bahwa PJK tetap menjadi penyebab utama kematian pada pria yang berusia 45 tahun ke atas dan pada wanita yang berusia di atas 55 tahun. Di Malaysia, grafik populasi penderita PJK menunjukkan peningkatan yang berarti. Antara tahun 1981 sampai 1989, jumlah penderita di Malaysia meningkat dari 15,3 per 100000 penduduk menjadi 37 per 100000 penduduk. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Data khusus mengenai salah satu jenis penyakit jantung ini belum ada. Yang ada hanya data mengenai penyakit jantung secara umum yaitu menempati peringkat kedua dari penyebab kematian terbanyak di Indonesia dengan persentase 10,1 %.
Apa sebenarnya PJK itu? PJK adalah salah satu dari sekian banyak penyakit jantung. Bedanya dengan yang lain yaitu bahwa PJK menyerang arteri koroner, yakni arteri yang mengalirkan nutrisi untuk sel-sel jantung. Manifestasinya berupa penyempitan arteri tersebut sehingga sel-sel jantung kurang mendapat suplai darah yang mengandung nutrisi dan oksigen. Akibat kekurangan kedua zat di atas, dalam waktu singkat jantung akan rusak dan berakibat pada kematian.
Walaupun proses penyempitan arteri koroner ini bersifat sangat kompleks dan multifaktorial, namun ada beberapa hal yang sangat berpengaruh. Inilah yang dinamakan faktor-faktor resiko.
Ada dua jenis faktor resiko terjadinya penyempitan arteri koroner (FRK), yaitu yang dapat dicegah dan tidak dapat dicegah. FRK yang sudah jelas tidak dapat dicegah salah satunya yaitu jenis kelamin. Statistik menyebutkan bahwa pria jauh lebih banyak menderita dari pada wanita yang belum mengalami menopause. Di sini perlu ditekankan kata wanita belum menopause. Artinya setelah wanita tersebut menopause, maka kemungkinan mendapatkan PJK menjadi sama bahkan lebih besar daripada pria.
FRK lain yang tidak dapat dicegah yaitu umur dan riwayat keluarga penderita PJK. Makin tua umur seseorang, makin besar pula kemungkinannya menderita. Untuk pria dengan umur di atas 45 tahun dan wanita di atas 55 tahun, hendaklah lebih banyak memikirkan kemungkinan tersebut sehingga bisa mengambil langkah dini. Demikian pula dengan orang yang punya keluarga, terutama ayah, kakek, dan seterusnya ke atas, penderita PJK. Mereka sebaiknya mengantisipasi hal ini karena kemungkinannya menderita jauh lebih besar.
Selain yang tidak dapat dicegah, adapula FRK yang dapat dihindari. Yang tersering yaitu dislipidemi, tekanan darah tinggi, penyakit gula, rokok, dan kegemukan. Pada lima faktor inilah calon penderita bisa ikut andil dalam upaya pencegahan PJK ini. Ya, walaupun sebenarnya masih banyak faktor lain, tapi cukup dengan mengatasi FRK mayor di atas, maka kemungkinan besar penyakit ini akan menghindari kita.
Dislipidemi adalah ketidaknormalan kadar lemak dalam tubuh manusia. Menurut National Cholesterol Education Program (NCEP), bahaya mengancam jika kadar kolesterol total lebih dari 200 mg/dL, kadar LDL kolesterol lebih dari 130 mg/dL, HDL kurang dari 40 mg/dL, dan trigliserida lebih dari 150 mg/dL. Inilah yang terjadi pada penderita PJK. Kadar HDL mereka, yang sebenarnya berdampak positif bagi tubuh, mengalami penurunan, sedangkan kadar tiga lemak lain yang berbahaya meningkat tajam. Akibatnya, lemak-lemak berbahaya tersebut mengendap di pembuluh darah koroner dan menyebabkan kekakukan pembuluh darah. Lama-kelamaan lemak-lemak tadi semakin banyak berkumpul di koroner sehingga terjadilah penyempitan.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan FRK kedua yang dapat dicegah. Menurut Joint National Commitee, tekanan darah dikatakan tinggi jika berada di atas 140/90. Tekanan tersebut akan memberikan beban tekanan yang besar pada dinding pembuluh darah sehingga memperbesar kemungkinan terjangkitnya PJK.
FRK lainnya yaitu penyakit gula (DM), rokok, dan kegemukan. Kejadian PJK pada penderita gula lima kali lebih banyak dari yang bukan penderita. Untuk FRK rokok, kejadiannya 2-6 kali. Dan yang terakhir, kejadian untuk orang gemuk 2- 3 kali lebih banyak.
Adapun gejala yang dirasakan oleh penderita PJK tergantung dari stadium penyakitnya. Pada stadium dini, ketika penyempitan masih ringan, gejalanya berupa nyeri dada sebelah kiri. Nyeri ini kadang menjalar ke lengan kiri, rahang, dan punggung. Pada stadium yang lebih lanjut, yaitu penyempitan sedang, keluhannya menjadi sesak napas dan nyeri dada yang lebih berarti sehingga terjadi kelemahan otot jantung. Akhirnya pada stadium berat, otot-otot jantung akan berhenti berfungsi atau berkontraksi dan berakibat kematian mendadak.
Selain melihat gejala klinik, ada cara lain untuk mengetahui secara lebih pasti apakah seseorang menderita PJK. Menurut Prof Dr dr T Santoso SpPD KKV dari Sub-Bagian Kardiologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, kadar P-selectin, sICAM-1, IL-6, TNF-alfa, dan CRP dalam tubuh dapat digunakan sebagai penanda. Malahan, kadar zat di atas bisa menjadi prediktor bagi orang yang masih sehat untuk mengetahui apakah nantinya akan menderita penyakit jantung tersebut atau tidak.
Jika seseorang telah divonis oleh dokter menderita penyakit jantung ini, maka orang itu harus menjalani terapi sebaik-baiknya agar bisa sembuh. Kalau penyakitnya dibiarkan maka resiko terjadinya kematian sangat besar. Ada dua hal penting yang akan dilakukan dokter terhadap pasien yaitu terapi obat-obatan dan operasi. Untuk yang terakhir ini, ada dua macam yang paling terkenal, yaitu operasi pintas koroner dan balonisasi pembuluh darah arteri koroner. Prinsip operasi pintas koroner yaitu mengambil pembuluh darah dari bagian tubuh lain kemudian memasangnya secara paralel di daerah koroner untuk menggantikan fungsi koroner yang telah rusak atau tersumbat. Adapun prinsip dari operasi balonisasi arteri koroner yaitu memasukkan selang kecil melalui pembuluh darah arteri di paha atau lengan sampai ke muara pembuluh koroner di jantung. Kemudian melalui selang tadi dimasukkan selang yang lebih kecil lagi dengan balon di ujungnya. Pada koroner yang menyempit balon tadi dikembangkan sampai koroner tersebut normal kembali. Setelah itu, balon dikempiskan dan akhirnya dikeluarkan.
Perlu diketahui bahwa operasi-operasi di atas masih sangat beresiko dan biayanya sangat mahal, bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Karena itu jalan terbaik adalah antisipasi sedini mungkin sebelum terkena. Dengan kata lain, mencegah memang selalu lebih baik dari pada mengobati. Caranya mudah saja, yaitu dengan pola hidup sehat.
Pola hidup sehat mencakup pola makan sehat, menghindari faktor resiko yang bisa dicegah, dan aktivitas olahraga yang cukup. Dalam pola makan, janganlah terlalu banyak mengkonsumsi makanan-makanan yang bisa meningkatkan kadar kolesterol seperti makanan yang mengandung lemak tinggi, di antaranya kuning telur, daging, keju, susu murni, es krim, mentega, dan minyak kelapa.
Kemudian hindarilah faktor-faktor resiko yang tadi telah disebutkan. Dislipidemi harus dinormalkan, tekanan darah dinormalkan, penyakit gula harus diawasi dan diatasi, hindari rokok, dan terakhir lawan kegemukan. Yang tidak kalah penting dalam pencegahan PJK adalah berolahraga secara teratur karena olahraga terbukti berpengaruh baik terhadap tubuh dalam hal meningkatkan curahan darah dari jantung , merangsang pengembangan pembuluh darah, menurunkan kadar lemak, mengurangi kegemukan dan memberi perasaan puas dan bahagia.

Partner Link:
1. There are four diabetes-type

Lubang Ozon, Lubang Kematian


Oleh: Amrizal Muchtar
Pemerhati Masalah Lingkungan

(tulisan ini pernah dimuat di Fajar, Makassar)

Punta Arenas adalah salah satu kota di ujung paling selatan Amerika Selatan. Penduduk kota berpopulasi 120.000 jiwa ini sekarang tidak lagi setenang dan setentram kota-kota lain di dunia. Halaman rumah mereka sudah lama tidak hijau seperti halaman kita di Indonesia, karena tiap tanaman yang tumbuh selalu merana. Penduduknya selalu dianjurkan memakai topi sombrero yang lebar tepiannya, kacamata hitam, kemeja lengan panjang, celana panjang, dan losion pelindung kulit pada bagian badan yang tidak terlindung kalau sedang berada di luar rumah.
Ya, kota ini merupakan satu-satunya kota di dunia yang terpapar bulat-bulat sinar ultraviolet yang bisa menimbulkan kanker kulit dan penyakit-penyakit lain yang sangat berbahaya. Keadaan ini diakibatkan menipisnya lapisan ozon di atas kota itu. Setiap hari, Badan Meteorologi dan Geofisika mereka menyiarkan ramalan cuaca, berisi laporan perkembangan besarnya lubang ozon di langit mereka, seperti laporan perkembangan suhu dan hujan pada kita.
Kondisi ozon di daerah ini memang tergolong paling parah di dunia. Setiap tahun, selama beberapa hari antara 1 September dan 31 Desember, lubang ozon di langit kota itu mencapai ukuran yang paling besar (kurang lebih 29 juta km2) dan melayang persis di atas kota itu. Diukur dengan spektroradiometer, kepekatan lapisan ozonnya sudah kurang dari 200 satuan Dobson di skala pengukur ozon. Sewaktu-waktu bisa bolong sama sekali, seperti di kutub selatan. Adapun di tempat lain di muka Bumi, kepekatannya masih normal, setebal 400.
Akankah muncul banyak Punta Arenas baru di tempat lain khususnya di Indonesia? Jawabannya tidak mustahil kalau perusakan ozon oleh manusia tidak segera ditangani dengan serius.
---ooo---
Seperti halnya nitrogen (N2), oksigen (O2), dan karbon dioksida (CO2), ozon adalah salah satu jenis gas yang terkandung dalam udara. Ozon yang terdiri atas tiga atom oksigen (O3) memiliki konsentrasi jauh lebih rendah dari gas-gas lain tadi.
Kita mungkin pernah mendengar tentang ozonisasi untuk mensterilkan air. Proses inilah yang dipakai dalam industri air mineral. Atau mungkin kita pernah dengar mengenai pembatasan kadar ozon di tempat kerja atau ruangan sampai sebesar 120 mikrogram per meter kubik udara karena sifatnya yang sangat beracun. Namun, walau zatnya sama, bukan ozon-ozon tersebut yang dipermasalahkan sekarang.
Yang menjadi permasalahan dan sering jadi topik internasional sekarang adalah ozon yang bertempat di lapisan stratosfer, lapisan udara kedua yang terletak 10-60 km dari bumi.
Ozon tersebut membentuk mantel yang melingkupi bumi dan melindungi umat manusia dari radiasi langsung sinar matahari sehingga kehidupan dapat tetap berlangsung di muka bumi ini. Mantel ozon ini memproteksi manusia dari sengatan sinar maut, yakni sinar ultraviolet, yang telah terbukti mampu mencengekeram kehidupan umat manusia.
Sinar ultraviolet dalam jumlah kecil memang diperlukan manusia misalnya dalam membantu pembentukan vitamin D oleh tubuh. Akan tetapi kalau terpapar dalam jumlah banyak, dampaknya akan sangat dahsyat. Terhadap manusia, sinar ini dapat menyebabkan kanker kulit, katarak mata, dan penurunan kekebalan tubuh seperti halnya penderita AIDS. Sinar ultraviolet dapat menurunkan kemampuan organisme dalam menyerap CO2 sehingga zat ini semakin terakumulatif dan mempermudah terjadinya pemanasan global. Sinar ultraviolet dapat menurunkan kemampuan mikroorganisme dalam menyediakan unsur nitrogen dalam tanah sehingga mengancam nasib tumbuh-tumbuhan dan juga hewan. Sinar ultraviolet dapat pula mengganggu kehidupan plankton yang menjadi dasar kehidupan di laut sehingga merusak ekosistem laut.
Dari semua itu, maka tidak ada keraguan lagi untuk mengatakan bahwa sedapat mungkin, paparan sinar ultraviolet di bumi harus sesedikit mungkin terjadi. Ironisnya, fakta menunjukkan kemampuan bumi dalam melindungi dirinya sendiri dari radiasi ini semakin melemah. Semenjak tahun 80-an, sinar ultraviolet yang masuk bumi telah meningkat 8-12 persen. Diperkirakan sekarang terjadi peningkatan yang signifikan dan akan makin parah di masa-masa yang akan datang. Ini disebabkan oleh makin menipisnya lapisan ozon bumi yang bisa memantulkan sinar tersebut. Menurut para ahli, setiap 10 % penipisan ozon, akan terjadi peningkatan sinar ultraviolet sebesar 20 %.
Perusakan ozon disebabkan oleh pemakaian bahan perusak lapisan ozon (BPO) dalam kehidupan sehari-hari manusia. Banyak sekali alat-alat kehidupan manusia yang mengandung BPO seperti lemari es, air conditioner, alat pemadam kebakaran, aerosol atau kosmetik semprot, bahan pembuatan gabus, cairan pembersih dan banyak lagi.
Berbagai jenis BPO digunakan oleh alat-alat di atas. Salah satunya, yaitu chloroflorocarbon (CFC). CFC merupakan hasil reaksi antara zat hidrokarbon dengan gas halogen di dalam sistem pendingin seperti kulkas atau AC. CFC juga digunakan sebagai bahan pendorong dalam aeorosol, misalnya hair spray, deodorant spray, dan insektisida. Jadi tiap menggunakan aerosol, zat ini akan terlepas ke udara. Penggunaan lain yaitu dalam pembuatan busa untuk bahan pembungkus, isolasi, matras dan gabus, dimana CFC akan teremisi ke udara selama proses pembuatan busa, tapi bahan busa itu sendiri tidak mengandung CFC.
CFC yang terlepas ke udara, pada kulkas dan AC terlepas pada saat rusak, akan terus naik ke atmosfer karena sifatnya yang stabil. CFC akan masuk lapisan stratosfer, tempat keberadaan mantel ozon, sehingga terjadilah reaksi antara ozon dengan unsur halogen dari senyawa CFC ini. Akibatnya ozon akan hancur dan semakin menipis. Perlu diketahui bahwa setiap molekul CFC akan merusak 100000 molekul ozon.
Selain CFC, masih banyak jenis BPO lain yang sering dipakai, di antaranya halon yang dipakai pada gas pemadam kebakaran, trichloroetane yang digunakan dalam pelarut dan pencucian logam di berbagai industri, dan carbon tetrachlorida yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan CFC. CFC memang yang paling sering dipakai, tapi yang paling berbahaya dari bahan-bahan berbahaya tersebut adalah halon, karena sifat perusak ozonnya 10 kali lebih besar dari CFC.
Dari sini, perlulah kita sadar bahwa kita sedang menuju masa depan yang mengerikan. Perusakan ozon berlangsung terus-menerus dan mengancam keberadaan manusia di bumi. Karena itu, sebagai manusia dan bagian dari seluruh umat manusia yang berjuang di atas bumi ini, perlulah kita peduli akan nasib bersama.
Kalau kita kebetulan berkedudukan sebagai pemerintah yang berwenang dalam menentukan kebijaksanaan mengenai lingkungan atau industri, langkah yang bisa diambil di antaranya melarang produksi dan impor peralatan yang mengandung BPO ( misalnya aerosol untuk industri kosmetik yang mengandung CFC sebagai gas pendorong dll.), mendemonstrasikan/uji coba teknologi baru (misalnya: CFC-11, recycling), dan mengadakan diseminasi pengetahuan dan seminar-seminar untuk kalangan industri.
Kalau kita termasuk kaum pengusaha industri, maka kita sebaiknya merangsang penggunaan dan mengembangkan sistem yang sesuai dengan teknologi non BPO (misalnya produksi kulkas non CFC), mengembangkan kemampuan personil agar mampu dan terampil dalam menggunakan teknologi baru yang ramah lingkungan, dan melakukan tindakan antisipasi dengan memperhatikan usia pakai peralatan produksi dan menggantikan atau memperbaiki alat-alat yang rusak.
Adapun kalau kita hanya sebagai masyarakat biasa, maka kita bisa berperan dalam pelestarian ozon, misalnya, dengan sesedikit mungkin menggunakan mebel baik di kantor maupun di rumah, yang menggunakan busa ( gunakanlah bahan organik seperti kapas, sabut kelapa, bulu angsa dll), memakai kulkas atau AC yang non BPO, memakai kosmetik non-spray, menggunakan kemasan yang tidak terbuat dari gabus (gunakan kertas atau bahan organik seperti daun dll), memperbaiki AC dan lemari es yang rusak secepat mungkin sehingga zat pendingin tidak teremisi ke udara, menanam pepohonan di sekitar tempat tinggal / kantor yang selain untuk menyejukkan ruangan sehingga tidak memerlukan AC, juga akan menambah oksigen (O2), dan memilih bengkel yang dapat mendaur ulang zat pendingin, jika alat pendingin rusak.
Mudah-mudahan dengan hari ozon yang jatuh pada 16 September ini, kita bisa lebih bersemangat dalam menjaga ozon kita ini.



Partner Link:
1. There are four diabetes-type








Kisah Seorang Dokter Mencari Kerja di Jakarta

Kisah Seorang Dokter Mencari Kerja di Jakarta
:: Amrizal Muchtar ::
(Dimuat di www.panyingkul.com, Rabu, 04-04-2007)
Kota Jakarta masih menjadi kota tujuan pencari kerja bagi ribuan warga negeri ini, tidak terkecuali bagi dokter-dokter lulusan Universitas Hasanuddin, Makassar. Tiap tahunnya puluhan lulusan Fakultas Kedokteran universitas terbesar di Indonesia Timur ini melanglang ke ibukota, mengisi puluhan klinik 24 jam yang tersebar di Jabotabek. Citizen reporter Amrizal Muchtar menemui salah seorang dokter lulusan Unhas, dr Supardi, yang tamat bulan September tahun lalu dan kini sudah bekerja di salah satu klinik.(p!)
Memang peluang kerja bagi dokter di Jakarta begitu luas. Ini tidak lepas dari banyaknya fasilitas kesehatan di Jakarta dan sekitarnya. Ratusan klinik 24 jam berdiri menghiasi jalan-jalan di Jabotabek. Hampir di tiap ruas jalan ada klinik 24 jam. Untuk mengisinya juga tidak susah, karena setiap saat selalu saja ada lowongan yang terbuka. Karena mudahnya, tidak perlu modal besar untuk bisa kerja di Jakarta. Dengan modal tiket pesawat, ongkos transportasi dan uang makan seminggu juga sudah cukup.

Saat ditemui di Klinik 24 Jam Panca Bakti Nusantara yang berlokasi di Jalan Kelapa Dua No. 29 Kebon Jeruk Jakarta Barat, Pardi (begitu dia akrab dipanggil) sedang membersihkan luka bekas jahitan seorang pasien laki-laki dewasa yang bernanah. Dengan telaten dia membersihkan luka tersebut dan kemudian membungkusnya dengan perban.

Pardi sudah bertugas di klinik ini sejak November 2006 silam. Dia bisa tugas di tempat ini karena menggantikan temannya yang sudah hengkang tugas ke klinik lain. Masuk dan bekerja di klinik bagi seorang dokter di Jakarta memang relatif mudah. Yang penting ada klinik yang membuka lowongan, maka siapa pun yang bergelar dokter bisa mengisinya tanpa perlu repot-repot membuat surat lamaran. Jadi cukup memberitahukan secara lisan ke klinik yang bersangkutan.

Untuk mengetahui klinik mana yang butuh dokter, bisa dari informasi teman atau dari posko dokter Unhas, semacam rumah tinggal yang dikontrak bersama, yang berlokasi di Bekasi. Tiap dokter Unhas yang menumpang atau mencari informasi di tempat ini diwajibkan membayar uang masuk dan iuran perbulan yang nantinya bisa dipakai membayar tagihan telepon, listrik dan kontrakan rumah. Ke posko inilah biasanya para pemilik klinik mencari dokter.

Sebagaimana klinik lainnya, Klinik Panca Bakti Nusantara melayani pengobatan umum, khitanan, KB suntik, operasi kecil (pengangkatan tahi lalat dan kutil) dan juga menerima panggilan berobat ke rumah. Dokter Pardi pun harus standby 24 jam untuk melayani pasien yang datang berobat. Penyakit pasien bervariasi, misalnya demam, luka, gatal-gatal, ISPA, dan lain-lain.

Walaupun namanya klinik 24 jam, tidak berarti kesibukannya juga 24 jam. Biasanya pasien ramai datang di saat pagi dan sore saja. Jumlah pasien berkisar antara 7- 20 pasien perharinya. Karena letaknya di tengah kota, pasiennya pun kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke atas. Pejabat DPR dan artis tidak jarang berobat ke sini.

Pria berkelahiran di Toli-Toli, Sulawesi Tengah, 11 November 1981 ini mengakui bahwa kehidupan di Jakarta begitu keras dibanding kota-kota lain. “Hidup di Jakarta penuh perjuangan,” Katanya, “Yang paling tidak enak macetnya itu.”

Saat memasuki kamar dokter, tampak televisi dan tempat tidur yang cukup nyaman mengisi kamar tersebut. Ketika ditanya mengenai penghasilan, dengan agak malu, dia mengatakan bisa mendapatkan honor antara Rp80 ribu hingga Rp250 ribu perhari. Dia kemudian memperlihatkan slip honor untuk jaganya di Klinik Panca Bakti selama 4 hari sebanyak Rp508.400. Dari penghasilannya tiap bulan, dia selalu mengirimkan uang kepada orang tua dan sanak saudaranya di kampung.

Mengenai pengalaman berkesan, dia mengatakan biasa-biasa saja selama di Jakarta. Pengalaman pertama menghadapi pasien sempat membuatnya grogi alias tidak percaya diri. Tapi lama-kelamaan akhirnya rasa itu hilang dengan sendirinya.

Ditanya mengenai obsesinya ke depan, dia mengatakan ingin melanjutkan sekolah dengan mengambil program spesialisasi penyakit dalam sekitar dua tahun ke depan. Tapi saat ini dia mau berbakti dulu, menerapkan ilmunya di daerah terpencil yang membutuhkan. Kebetulan April ini dibuka pendaftaran untuk jadi dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di daerah terpencil di luar Jawa. Jadi Pardi akan melamar ke situ. Jika daerahnya bagus dia mungkin akan menetap hingga dua tahun di daerah tersebut. Sungguh suatu niat yang mulia.(p!)

*Citizen reporter Amrizal Muchtar dapat dihubungi melalui muridhipokrates@telkom.net

Partner Link:
1. There are four diabetes-type

Tahukahkita: Yang Gratis dari BaKTI

:: Amrizal Muchtar ::
Dimuat di www.panyingkul.com, Kamis, 21-09-2006

Sejak diresmikan September 2004, BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) semakin menarik perhatian masyarakat Kota Makassar. Ini tidak lepas dari fasilitas gratis yang ditawarkan lembaga yang didanai Bank Dunia beserta sejumlah donor internasional lainnya ini. Citizen reporter Amrizal Muchtar membagi pengalamannya menikmati fasilitas ini.(p!)

Lembaga yang berlokasi di Jalan Dr. Sutomo, Makassar, dari Senin sampai Jumat, selalu didatangi puluhan warga dari berbagai penjuru. Menurut pengelolanya, rata-rata pengunjung yang datang sekitar 60 orang setiap hari.

Fasilitas apa saja yang ada di sini? Yang belum pernah ke sana mungkin akan bertanya seperti itu. Ada tiga fasilitas yang paling “memanjakan”, yakni internet, ruang pertemuan dan seminar, serta perpustakaan. Fasilitas internet mungkin adalah penarik utama para pengunjung. Di saat warnet di Makassar mengenakan tarif Rp4000 sampai Rp6000 per jam, BaKTI malah menyediakan sepuluh komputer bermonitor tipis untuk mengakses internet secara gratis. “Ini sangat mempermudah saya,” ujar Rian, seorang mahasiswa jurusan farmasi yang sering berkunjung ke tempat ini. Dia mengaku pernah datang setiap hari ke sini untuk akses internet.

Akan tetapi, seiring dengan bertambah banyaknya pengunjung, jumlah sepuluh komputer menjadi tidak cukup berbanding jumlah pengunjung Terlihat banyak pengunjung yang antre. Karena itu pemakaian internet dibatasi hanya satu jam untuk akses internet biasa, dan dua jam untuk keperluan riset. Tapi kalau ingin memakai internet sepuasnya bisa juga sepanjang membawa laptop berperangkat wireless wi-fi. Dengan laptop sendiri anda bisa memilih apakah mengakses internet dalam ruangan khusus komputer atau di bawah tenda kafe. Anda pun bisa membeli berbagai makanan dan minuman di kafe ini.

Jumlah komputer yang terbatas, diperburuk oleh ketidakdisiplinan pengunjung untuk antre. Sering ada pengunjung yang datang belakangan malah menyerobot, mengambil giliran pengunjung yang dari tadi menunggu. Ini saya alami saat datang ke sana, Selasa (19/09). Saya tiba pukul 11 pagi, dan ternyata semua komputer terpakai. Saya pun duduk di ruang tunggu dengan dua orang lainnya yang juga antre. Tak berapa lama kemudian datang beberapa siswa SMU. Mereka tidak duduk di ruang tunggu, tapi berdiri persis di pintu masuk ke ruang komputer, ambil ancang-ancang untuk menggantikan mereka yang sudah selesai menggunakan internet. Saya yang menunggu tiga puluh menit lebih tak berdaya menegur setelah mereka benar-benar mengambil giliran saya. Biasanya memang ada petugas yang mengatur giliran. Tapi saat itu, pengunjung yang datang agak banyak sehingga petugas tidak sempat mengeceknya lagi.

“Fasilitas ini bagus sekali,” kata Syamsul, mahasiswa Fakultas Ekonomi UMI Makassar, yang berdomisili di Jalan Alauddin. ”Tapi sayang antrean pengunjungnya kurang teratur.”

Fasilitas lain yang menarik adalah ruang pertemuan atau seminar yang disediakan bagi lembaga donor, LSM nasional/internasional maupun forum-forum lokal di Makassar. Tentu saja ruang ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti LCD, sound system, whiteboard, dan flip chart. Terdapat dua ruang pertemuan yang nyaman dan tenang, yaitu ruang Nusa Tenggara yang tertutup dengan kapasitas 20-25 orang, dan ruang pertemuan terbuka, yang cocok untuk suasana santai, dengan kapasitas 40-50 orang.

Fasilitas perpustakaannya yang bernuansa elegan dan sejuk, dengan koleksi buku mengenai Kawasan Timur Indonesia, juga menarik. Buku-bukunya cukup baru, banyak yang bertema budaya, ekonomi dan politik. Di antaranya "Sinjai, 10 tahun dalam Memori", "Simbolisme unsur Visual Rumah Tradisional Toraja"; "Pahlawan dari Sulawesi Selatan"; "The ecology of Nusa Tenggara dan Maluku"; dan "Otonomi Khusus Papua". Pokoknya kalau mau mempelajari tentang Kawasan Timur Indonesia, perpustakaan ini adalah sumber yang dapat diandalkan.

Kehadiran fasilitas yang memanjakan ini merupakan bagian dari program Indonesia Timur yang dikelola Bank Dunia dengan dukungan dana dari Pemerintah Inggeris dan Pemerintah Belanda, serta dukungan tambahan dari sejumlah lembaga asing lainnya. Program Indonesia Timur yang dimulai September 2004 ini bertujuan membantu pengembangan sumber daya manusia di kawasan ini, yang tertinggal jauh dibandingkan kawasan Indonesia Barat. Fasilitas fisik berupa bursa pengetahuan ini dipadukan juga dengan fasilitas virtual yang dapat diakses di situs web: www.bakti.org. Tentunya, diharapkan dengan penggabungan fasilitas fisik dan virtual yang menyediakan informasi dan pengetahuan melimpah tentang Indonesia Timur, dapat mendorong percepatan pembangunan di kawasan ini. Sementara bagi warga Makassar, tentu saja kehadiran BaKTI adalah surga informasi yang menjadi favorit berbagai kalangan. Karena selain fasilitas yang memadai, lokasi Bakti yang mudah diakses pun menjadi alasan mengapa tempat ini selalu ramai. (p!)

*Citizen reporter Amrizal Muchtar dapat dihubungi melalui email muridhipokrates@telkom.net

Partner Link:
1. There are four diabetes-type

Dicari: Penulis Skenario yang Bertanggung Jawab

:: Amrizal Muchtar ::
Dimuat di www.panyingkul.com Rabu, 18-04-2007

Citizen reporter Amrizal Muchtar yang baru-baru ini mengikuti workshop penulisan skenario di Jakarta, mengamati bahwa tidak sedikit orang yang serius menapaki karir di bidang ini, bahkan ada yang rela meninggalkan pekerjaannya. Juga tak sedikit yang merasa terpanggil dengan harapan mulia, agar bisa melahirkan program televisi yang berkualitas dan tidak melecehkan akal sehat penonton. Berikut laporannya. (p!)

Kualitas program televisi di Indonesia memang memprihatinkan. Begitu banyak tayangan tidak bermutu hadir di televisi, dan salah satu yang kian mendapat sorotan adalah sinetron. Ketika sinetron religius naik daun, penonton disuguhi tayangan yang menampilkan pesan keagamaan yang justru menakutkan dan tak masuk akal. Ketika booming sinetron horor, segala rupa hantu dan mahluk halus pun bergentayangan dan makin melecehkan akal sehat penonton. Parahnya lagi, banyak sekali sinetron jiplakan yang beredar tanpa pengakuan bahwa karya tersebut dijiplak habis-habisan dari negara lain.

Nah, pertanyaannya sekarang, bisakah program hiburan di dunia layar kaca kita dikembalikan ke jalan yang benar, dalam arti menayangkan karya yang menghibur, mendidik, dan mencerdaskan? Dalam workshop penulisan skenario yang berlangsung baru-baru ini di Jakarta, pertanyaan ini yang menjadi menjadi fokus utama sekaligus tantangan bagi 30 peserta yang hadir.

Secara gamblang, jawaban untuk melahirkan program televisi berkualitas adalah dengan melahirkan penulis program televisi yang berkualitas pula. Tapi, berapa banyak penulis program televisi yang berkualitas yang tersedia?

Workshop ini diadakan oleh LabTV, sebuah organisasi yang dikelola oleh Sony Set, penulis skenario yang telah lima tahun malang melintang di dunia pertelevisian serta telah menulis 100 skenario drama dan non-drama.

Di dalam workshop ini Sony Set menyoroti dunia pertelevisian Indonesia yang penuh dengan jiplakan karya-karya dari luar negeri seperti Korea dan Taiwan. Dikatakannya, begitu banyak karya jiplakan yang tidak menuliskan keterangan bahwa karya tersebut merupakan saduran dari sinetron asing. Dan ini penyebabnya tidak terlepas dari kepentingan bisnis, yang semata mencari untung. “Pokoknya, nilai moral dan etika dalam berkarya tidak terlalu dipedulikan lagi dilibas oleh kepentingan kapitalisme. Yang penting bisa menghasilkan uang yang banyak.” tandas Sony.

Produk yang memikirkan untung semata seperti ini, lanjutnya, tidak lagi memikirkan mutu yang baik. Selama workshop dua hari ini berlangsung, para peserta tidak hanya diajarkan teknik penulisan skenario, prospek karir sebagai penulis skenario, tapi juga diajak memikirkan tanggung jawab dan idealisme memajukan dunia pertelevisian melalu karya yang bermutu.

Bagi saya sendiri, yang juga menjadi hal menarik selama workshop adalah begitu bersemangatnya gairah belajar para peserta. Dengan membayar Rp350.000, setiap peserta memang tidak hanya mendapatkan pengayaan seputar dunia penulisan skenario, tapi selain itu mereka juga membawa bahan pemikiran, bahwa seandainya mereka ingin serius menggeluti profesi ini, ada misi pencerdasan penonton yang mesti selalu digarisbawahi.

Kebutuhan sinetron di televisi Indonesia memang sangat tinggi, yakni mencapai 5.000 jam setiap tahunnya. Sementara jumlah penulis skenario yang tersedia sangat sedikit. Baru tercatat sekitar 50-an penulis skenario aktif dan tergabung dalam suatu ikatan penulis skenario resmi. Ini berarti, peluang untuk menjadi penulis skenario sangat terbuka lebar buat siapa saja, tak mengenal tingkat pendidikan, usia, dan jenis kelamin.

Selain peluangnya yang masih terbuka lebar, skenario itu ternyata sangat dihargai tinggi oleh media televisi. Kalau menulis artikel atau cerpen di media cetak, paling tinggi dihargai Rp500.000 –Rp.750.000. Sedangkan skenario sinetron yang berdurasi setengah jam dihargai minimal Rp3 juta. Untuk sinetron berdurasi satu jam ditaksir harganya sekitar Rp5-6 juta rupiah. Bila sinetron tersebut ratingnya tinggi, harganya tentu makin melambung. Bisa diambil contoh, untuk komedi situasi “Bajaj Bajuri” yang ratingnya melonjak tinggi, Aris Nugraha, penulis skenarionya, mendapatkan Rp100 juta per episodenya.

Prospek yang menjanjikan dari profesi ini serta masih sedikitnya penulis skenario yang ada, yang antara lain menjadi motivasi peserta workshop. Dewi, peserta yang datang dari Surabaya mengatakan, “Saya memutuskan berhenti dari pekerjaan saya sebagai karyawan di Surabaya dan datang kemari untuk menjadi penulis skenario.”

Di akhir workshop, para peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk dari Komisi Penyiaran dan Komnas Perempuan, melontarkan tekad yang sama: menjadi penulis skenario profesional, menghasilkan karya-karya yang berkualitas, tidak seenaknya menjiplak, dan memajukan dunia pertelevisian. Semoga. (p!)

*Citizen reporter Amrizal Muchtar dapat dihubungi melalui email muridhipokrates@telkom.net

Partner Link:
1. There are four diabetes-type

Menghapal tanpa tahu artinya tak termasuk mempelajari Alquran

Menghafal Tanpa Tahu Artinya, Tak Termasuk Mempelajari Al-Qur’an!  ibtimes.id/menghafal-tanpa-tahu-artinya-tak-termasuk-mempelajari-al-quran...