Wednesday, September 29, 2010

Tragedi Tarakan, Kejahatan Suku atau Kelambatan Polisi

Tragedi Tarakan menghebohkan masyarakat Indonesia. Teringat kembali tragedi-tragedi serupa berbau SARA lainnya yang pernah terjadi di Indonesia. Tragedi Ambon, Poso, Sampit, dan lain-lain masih teringat. Betapa banyak korban yang jatuh sia-sia tanpa alasan yang berarti.

Tragedi kali ini terjadi antara etnis Bugis-Dayak. Pemicunya adalah terbunuhnya satu korban dari salah satu suku yang terlibat. Menyebabkan emosi yang meluap-luap dari suku bersangkutan. Akhirnya terjadilah tawuran antar suku. Sampai tulisan ini dibuat, tragedy Tarakan ini masih berlangsung. Bahkan sudah jatuh enam korban tewas dari kedua belah pihak.


Masalahnya sebenarnya dimana? Apakah memang ada suku yang jahat? Apakah ada agama yang buruk? Yang mengajarkan pengikutnya untuk berlaku kejam pada pihak lain. Saya rasa tidak. Tidak ada suku yang jahat. Tiada agama yang buruk. Yang ada hanyalah individu yang buruk. Di setiap daerah, di setiap komunitas, ada saja orang-orang yang jahat, yang tidak bisa berpikiran jernih untuk menyelesaikan suatu masalah.

Jadi harusnya keburukan yang dilakukan seseorang dari suku /agama tertentu tidak digeneralisasi bahwa itu adalah keburukan komunitas tersebut. Hanya faktor emosi sesaatlah yang menjadikan hal ini meluas. Di sinilah peran kepolisian yang cepat diperlukan. Andaikan polisi cepat menyelesaikan dan menangkap pelaku pertama pembunuhan, tentulah ini tidak akan terjadi. Kita berharap ini cepat selesai dan tidak berkembang lama. Amiin. Untuk penyebab lebih detail dari peristiwa ini bisa dibaca pada lanjutan di bawah.

Sepanjang Senin (27/9), suasana mencekam akibat kerusuhan melanda Tarakan, Kalimantan Timur. Beberapa warga dengan senjata tajam di tangan melakukan aksi sweeping terhadap warga lainnya. Dua rumah juga dibakar massa dan 4 rumah lainnya rusak. Rusuh dipicu atas tewasnya Abdullah bin H Salim (58) karena dikeroyok 6 pemuda di wilayah Juata Permai, Tarakan Utara. Meninggalnya Abdullah Bin H. Salim ini terjadi pada Minggu malam, atau Senin (27/9) dinihari, setelah sebelumnya terjadi pertengkaran antara anak Abdullah bin H Salim yang bernama Abdul Rahman dengan 6 pemuda. Pertengkaran terjadi usai Abdul Rahman membeli rokok sekitar pukul 22.00, Minggu (26/9) malam lalu. Setibanya di rumah, Rahman menceritakan kronologis kejadian pada Minggu malam itu. Awalnya ia berniat membeli rokok di salah satu toko di pinggir jalan utama, di dekat jalan masuk kantor Kelurahan Juata Permai. Setelah membeli rokok, Rahman yang saat itu bersama rekannya bernama Jay, menanyakan keberadaan rekannya bernama Ruri kepada 6 pemuda itu. “Saya cuma cari Ruri, tapi tidak ada. Mereka (6 orang) langsung memukul saya,” kata Rahman yang menderita luka-luka di bagian muka dan pergelangan tangan kanannya.

Di saat kejadian itu, Jay lantas balik ke rumahnya di wilayah Belalung, untuk mengabarkan kejadian ini kepada salah satu keluarganya, Lili Sutrisna, dan ayah Rahman, (almarhum) Abdullah Bin H. Salim. Dikatakan Lili, awalnya hanya ia yang ingin melihat Rahman di lokasi itu. Namun ayah Rahman, Abdullah, juga ingin sekali ikut. “Kami sudah tahan agar beliau (almarhum) tidak ikut. Tapi tetap saja mau. Pas kami sampai disana, Rahman sudah babak belur. Almarhum juga kena sabetan parang,” ujar Lili Sutrisna yang mengaku menerima pukulan di wajahnya saat kejadian itu.

Rahman sendiri mengaku sudah tidak mengetahui apa-apa lagi pasca pertengkaran itu. “Setelah saya diantar ke rumah, saya langsung dibawa ke rumah sakit. Jadi saya tidak tahu apa-apa lagi,” katanya seperti dikutip Radar Tarakan (grup JPNN).

Kejadian ini memicu kemarahan etnis Tidung. Sanak keluarga dan warga dari Persatuan Suku Asli Kalimantan Timur (Pusaka) tumpah ruah di kediaman keluarga korban di wilayah Belalung, Juata Permai, kemarin pagi sebelum dikebumikan di Gunung Daeng, Sebengkok Tiram pukul 15.00.


dr. Amrizal M.

Sangatta, 30 September 2010

No comments: