Tuesday, September 18, 2007

Ketika Wakil Cuma Cadangan

Sebentar lagi warga Sulawesi Selatan akan mengikuti pemilihan kepala daerah (Pilkada) Gubernur dan Wakil Gubernur secara langsung. Ini adalah pilkada langsung pertama yang terjadi di propinsi ini. Lima tahun lalu, gubernur dan wakilnya dipilih oleh anggota DPR. Sekarang, terasa benar, kekuasaan ada di tangan rakyat. Rakyatlah yang memilih langsung pemimpinnya.

Kenyataan menunjukkan adanya kecenderungan seorang kepala daerah atau kepala negara tidak puas dengan jabatan satu periode. Yang sudah menjabat selalu ingin mempertahankan atau meningkatkan jabatannya sampai batas waktu maksimal. Dalam hal ini, seperti yang di tetapkan UU, selama dua periode.

Bisa dilihat contohnya gubernur Jakarta sebelumnya Sutiyoso, menjabat dua periode. Salah satu calon gubernur Sulsel pun, yaitu Amin Syam masih ingin menjabat satu periode lagi. Bahkan dalam sejarah Indonesia, Soeharto mampu mempertahankan kekuasaannya selama 6 periode.

Namun tulisan ini tidak akan membahas pertahanan jabatan gubernur, tapi peningkatan jabatan dari wakil menjadi gubernur. Peristiwa seperti inipun kerap terjadi di negara kita. Contohnya Megawati, dari wakil menjadi Presiden, Ratu Atut di Banten dan Fauzi Bowo di Jakarta, dari wakil menjadi gubernur. Sekarang fenomena itu juga terjadi di Pilkada Sulsel dengan mencalonkan dirinya Syahrul Yasin Limpo menjadi Calon Gubernur.

Apa sebenarnya makna dibalik ini semua? Mengapa sedemikian banyak wakil yang mau jadi gubernur? Apakah memang ada ketidakpuasan terhadap partnernya dalam memimpin daerah yang bersangkutan? Atau adakah faktor nafsu materi dan kekuasaan yang berperan di sini?


******

Negara dan propinsi merupakan suatu wilayah administratif yang memiliki sistem organisasi untuk menjalankan roda pemerintahan. Seperti umumnya organisasi, tentulah setiap daerah mengharuskan adanya satu pimpinan supaya roda pemerintahan berjalan ke satu arah.

Untuk memimpin organisasi ini, pemimpin selalu memiliki partner yang sering disebut wakil. Jadi ada kepala negara ada wakil kepala negara, ada kepala daerah ada juga wakil kepala daerah.

Peran wakil yaitu membantu pemimpin menjalankan tugas-tugas kenegaraan sesuai dengan program kerja yang telah dibuat. Apabila sang pemimpin berhalangan, maka wakillah yang menggantikannya. Bisa diambil contoh pada kasus presiden SBY yang berhalangan hadir pada acara ulang tahun kemerdekaan negara tetangga Malaysia yang kelima puluh beberapa hari yang lalu. JK yang menggantikan saat itu.

Peran yang kedua adalah sebagai penasehat pemimpin dalam memutuskan atau mengambil langkah-langkah tertentu. Rumusan langkah-langkah pemerintahan tentunya tak lepas dari peran wakil sejak mereka bertemu atau memutuskan berpartner di pemilu atau pilkada. Walaupun biasanya sudah ada badan penasehat, tapi posisi wakil sebagai penasehat bisa lebih kuat karena perbedaan derajat kekuasaannya lebih tipis.

Peran selanjutnya dari wakil adalah sebagai cadangan jika nanti presiden berhalangan tetap, baik dari segi hukum maupun kesehatan. Begitu banyak peristiwa politik dalam sejarah dimana wakil menggantikan posisi pemimpin. Contohnya Megawati menggantikan posisi Gus Dur saat presiden tersebut dilengserkan, Habibi menggantikan Soeharto, dan Ratu Atut menggantikan Gubernur Banten yang terganjal masalah korupsi.

Dari fungsi-fungsinya ini, terlihat betapa perlunya kekompakan antara kepala daerah dan wakilnya. Kepala daerah dan wakilnya harus memiliki visi dan misi yang sama. Keberhasilan gubernur adalah juga keberhasilan wakilnya.

Melihat dari fenomena kampanye calon gubernur yang ada di sulawesi selatan ini terlihat jelas tindakan-tindakan yang mengisyaratkan ketidakkompakan antara pemimpin dan wakil sebelumnya.

Tampak iklan kampanye dari Syahrul dan Amin Syam terkadang saling menjatuhkan satu sama lain. Ada kesan "black campaign" untuk menjatuhkan citra pihak lawan. Mulai dari menyinggung masalah narkoba, sampai masalah penyakit jantung

Dari sini, masyarakat Sulawesi Selatan bisa berpikir, keduanya telah berpartner selama lima tahun, seharusnya sudah terjadi hubungan baik yang sangat erat antara keduanya. Teman baik tidak akan pernah saling menjelek-jelekkan satu sama lain, baik secara tersirat maupun tersurat. Tapi kenyataan yang terjadi di lapangan kampanye mengatakan hal sebaliknya. Melihat dari hal ini, kita bisa menyimpulkan bahwa selama ini peran wakil pimpinan dari suatu daerah terpinggirkan oleh dominasi dari pimpinannya. Peran wakil lebih sering sebagai cadangan kalau nantinya pimpinan berhalangan tetap seperti yang dicontohkan sebelumnya.

******

Mengapa posisi gubernur begitu "panas" untuk diperebutkan? Mengapa banyak orang mencalonkan diri menjadi calon? Mengapa wakil gubernur juga tertarik meningkatkan statusnya satu tingkat lagi menjadi orang nomor satu di propinsi?
Salah satu alasannya mungkin adalah keinginan untuk mengabdi kepada masyarakat. Dengan menjadi pimpinan daerah, seseorang akan memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan dan bertindak untuk kemaslahatan masyarakat yang dipimpinnya.

Tapi tidak cukup hanya oleh keinginan saja, tapi harus didukung oleh kemampuan manajemen pemerintahan yang bagus. Orang yang memiliki dua hal inilah yang seharusnya jadi pimpinan. Tapi ternyata tidak mudah memilih orang yang tepat karena pemilih sering tidak mengetahui karakter pemimpin yang dipilihnya.

Perkenalan pemimpin dalam kampanye yang terjadi, tidak selalu menjamin masyarakat mengenal baik para calon. Sudah sering terbukti bahwa para calon ternyata hanya mengumbar janji belaka. Kenyataan yang diharapkan ternyata sering tidak sesuai janji-janjinya.

Adapun alasan lainnya, bisa saja bersifat negatif. Tidak bisa dipungkiri bahwa jabatan kepala daerah sangat dekat dengan materi yang melimpah. Sering juga orang-orang berniat jadi calon hanya karena faktor ini. Mudah-mudahan yang mendaftar menjadi calon gubernur kita ini tidak memiliki niat ke arah ini.

Berminatnya wakil menjadi kepala daerah tentu sangat berkaitan dengan hal di atas. Kemungkinan besar, aspirasi dari wakil ini tidak tersalurkan dengan baik. Jadi selama ini tidak terjadi kerjasama yang baik antara pemimpin dan wakilnya.

Tidak ada masalah sebenarnya dengan kenyataan berkeinginannya wakil jadi pemimpin selama dia memiliki tujuan-tujuan yang idealis buat mengabdi kepada masyarakat. Bukan untuk alasan negatif yaitu mengejar kekuasaan dan materi.

Biar bagaimanapun, mengutip dari satu lagu rock terkenal, "wakil juga manusia". Manusia yang menjalani suatu karir, dimana setiap saat selalu ingin karirnya makin baik. Ini sesuai dengan teori maslow yang mengatakan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan aktualisasi diri setelah kebutuhan-kebutuhan lainnya terpenuhi Tidak aneh jika setelah selesai jadi gubernur, mereka juga mencalonkan diri menjadi presiden.

Namun yang disayangkan adalah ketidakkompakan antara pemimpin dan wakilnya. Ini bukanlah sikap seorang negarawan yang baik. Seharusnya mereka bisa mengesampingkan ego masing-masing dan bekerja bersama-sama demi kepentingan masyarakat.

Yang kedua adalah tidak seharusnya terjadi "black campaign", apalagi oleh mereka yang pernah berpartner selama bertahun-tahun dalam menjalankan pemerintah. Boleh jadi mereka berpikir bahwa dengan black campaign itu reputasi lawan akan jatuh, dan mereka yang akan menang. Tapi sebenarnya mereka salah besar. Masyarakat sekarang sudah banyak yang cerdas. Justru mereka yang melakukan kampanye negatif itu yang akan menurun reputasinya karena ulahnya sendiri.

Kita berdoa siapapun yang terpilih, benar- benar adalah pasangan yang paling tepat yang mau bekerja keras dengan kompak dan mendahulukan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Semoga!

Amrizal, Makassar, 8 September 2007


Partner Link :

Diabetes Signs and Symptoms to Know

Duta Anti Rokok

Belakangan ini, sering sekali diberitakan para artis menjadi duta sosial atau duta kesehatan tertentu Tantowi Yahya menjadi duta buku nasional. Marshanda menjadi duta lingkungan. Dewi Hughes menjadi duta anti traficking. Agnes Monica menjadi duta anti narkoba. Terpilihnya artis tentu saja berkaitan dengan popularitas mereka yang dianggap bisa mempercepat sosialisasi program yang dicanangkan.
Tapi saya heran kenapa ya, belum ada duta anti rokok di Indonesia. Bukan rahasia lagi kalau rokok merupakan zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Pada setiap bungkus rokok, secara jelas dicantumkan, PERINGATAN PEMERINTAH, MEROKOK DAPAT MERUSAK KESEHATAN, MENYEBABKAN GANGGUAN KESEHATAN, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN JANIN.
Ini tampaknya berkaitan dengan tidak berdayanya pemerintah dan masyarakat terhadap kekuatan bisnis perusahaan rokok di Indonesia. Bisnis rokok tampaknya telah menyusupi setiap rongga-rongga terkecil kehidupan bangsa. Bisnis rokok telah menguasai jaringan kehidupan masyarakat. Hampir setiap kegiatan sosial disponsori oleh perusahaan rokok. Bahkan olahraga yang memiliki visi kesehatan yang sangat bertolakbelakang juga bisa dikuasai, terbukti dengan banyaknya acara olahraga yang disponsori perusahaan rokok.
Artis-artis pun berhasil dikuasai oleh mereka. Begitu banyak artis yang merelakan dirinya "diperbudak" oleh perusahaan rokok. Demi sejumlah uang, mereka mau "membujuk" masyarakat memakai rokok yang mereka promosikan.
Alhasil sampai saat ini belum ada duta anti rokok di Indonesia. Kalaupun ada, gaungnya sudah tertekan oleh kekuatan bisnis rokok yang sudah merajai negeri ini.

Amrizal, Makassar, 17 September 2007
www.penjelajahwaktu.blogspot.com

Partner Link:

Diabetes Signs and Symptoms to Know


Penyebaran HIV lewat Klinik dan RS


Sebagai dokter, saya sering merasa kesal dan marah dengan keadaan klinik-klinik dan RS di negeri ini. Saya sudah sering berpindah-pindah klinik ataupun RS di beberapa daerah. Dan ada satu hal mirip yang mengganggu
Sebagian sarana kesehatan tersebut menggunakan alat disposable (cuma boleh dipakai sekali) berkali-kali. Seperti jarum jahit, benang jahit. Menurut yang saya pernah baca, di beberapa tempat seperti di Merauke, satu jarum suntik bisa dipakai sampai lima kali.

Ini tentu saja bisa menyebabkan makin menyebarluasnya beberapa penyakit yang sangat berbahaya. Bisa saya sebutkan dua penyakit yaitu hepatitis C dan HIV. Dua penyakit penyebab kematian yang belum ditemukan obatnya.

Saya merasa miris kalau membayangkan banyaknya pasien yang tertular justru dari sarana kesehatan yang seharusnya menolong mereka. Saya bukannya tidak setuju banyaknya sarana kesehatan yang berdiri. Biar bagaimanapun klinik kesehatan dan RS sangat penting bagi masyarakat. Tapi fakta seperti diatas tidak bisa dipungkiri.

Saya mau mengimbau buat pelaku kesehatan (dokter, perawat, dan laboratoris) agar memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada pasien dan jangan pernah memakai alat disposable lebih dari satu kali. Sebaliknya pasien juga harus mempertanyakan hal ini pada pelaku kesehatan jika pasien harus diberi tindakan invasif, seperti disuntik, dijahit atau segala tindakan yang menyebabkan perdarahan sekecil apapun. Pasien harus meyakinkan bahwa yang dipakai itu adalah benar-benar alat-alat yang baru.

Amrizal, 17 September 2007
www.penjelajahwaktu.blogspot.com


Partner Link :

Diabetes Signs and Symptoms to Know

Tuesday, September 11, 2007

Anak Pencium Kaki

Nama aslinya Ihsan Faqi. Biasa dipanggil Faki. Sekarang umur anak laki-laki ini 3 tahun. Sayangnya dia belum pandai bicara. Dia baru bisa bilang Abi (panggilan buat ayah), api, minum, tutu (susu).
Ada
satu keunikan keponakanku ini. Entah kenapa, dia sering sekali mencium kaki orang lain tanpa disuruh, dalam hal ini om, tante, atau neneknya. Kaki saya sudah berkali-kali dia cium. Pada saat saya tulis paragraf inipun, dia baru saja mencium kaki dato umminya (nenek). Orang tuanya juga tidak tahu, kenapa anaknya bisa berkelakuan seperti itu.
Berikut ini adalah gambar yang berhasil saya abadikan saat Faki mencium kaki tantenya (emmi di rumah jalan balang caddi, makassar.

Amrizal, Makassar, 3 September 2007


Partner Link :

Diabetes Signs and Symptoms to Know


Menghapal tanpa tahu artinya tak termasuk mempelajari Alquran

Menghafal Tanpa Tahu Artinya, Tak Termasuk Mempelajari Al-Qur’an!  ibtimes.id/menghafal-tanpa-tahu-artinya-tak-termasuk-mempelajari-al-quran...