Wednesday, May 23, 2007

Tahukahkita: Yang Gratis dari BaKTI

:: Amrizal Muchtar ::
Dimuat di www.panyingkul.com, Kamis, 21-09-2006

Sejak diresmikan September 2004, BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) semakin menarik perhatian masyarakat Kota Makassar. Ini tidak lepas dari fasilitas gratis yang ditawarkan lembaga yang didanai Bank Dunia beserta sejumlah donor internasional lainnya ini. Citizen reporter Amrizal Muchtar membagi pengalamannya menikmati fasilitas ini.(p!)

Lembaga yang berlokasi di Jalan Dr. Sutomo, Makassar, dari Senin sampai Jumat, selalu didatangi puluhan warga dari berbagai penjuru. Menurut pengelolanya, rata-rata pengunjung yang datang sekitar 60 orang setiap hari.

Fasilitas apa saja yang ada di sini? Yang belum pernah ke sana mungkin akan bertanya seperti itu. Ada tiga fasilitas yang paling “memanjakan”, yakni internet, ruang pertemuan dan seminar, serta perpustakaan. Fasilitas internet mungkin adalah penarik utama para pengunjung. Di saat warnet di Makassar mengenakan tarif Rp4000 sampai Rp6000 per jam, BaKTI malah menyediakan sepuluh komputer bermonitor tipis untuk mengakses internet secara gratis. “Ini sangat mempermudah saya,” ujar Rian, seorang mahasiswa jurusan farmasi yang sering berkunjung ke tempat ini. Dia mengaku pernah datang setiap hari ke sini untuk akses internet.

Akan tetapi, seiring dengan bertambah banyaknya pengunjung, jumlah sepuluh komputer menjadi tidak cukup berbanding jumlah pengunjung Terlihat banyak pengunjung yang antre. Karena itu pemakaian internet dibatasi hanya satu jam untuk akses internet biasa, dan dua jam untuk keperluan riset. Tapi kalau ingin memakai internet sepuasnya bisa juga sepanjang membawa laptop berperangkat wireless wi-fi. Dengan laptop sendiri anda bisa memilih apakah mengakses internet dalam ruangan khusus komputer atau di bawah tenda kafe. Anda pun bisa membeli berbagai makanan dan minuman di kafe ini.

Jumlah komputer yang terbatas, diperburuk oleh ketidakdisiplinan pengunjung untuk antre. Sering ada pengunjung yang datang belakangan malah menyerobot, mengambil giliran pengunjung yang dari tadi menunggu. Ini saya alami saat datang ke sana, Selasa (19/09). Saya tiba pukul 11 pagi, dan ternyata semua komputer terpakai. Saya pun duduk di ruang tunggu dengan dua orang lainnya yang juga antre. Tak berapa lama kemudian datang beberapa siswa SMU. Mereka tidak duduk di ruang tunggu, tapi berdiri persis di pintu masuk ke ruang komputer, ambil ancang-ancang untuk menggantikan mereka yang sudah selesai menggunakan internet. Saya yang menunggu tiga puluh menit lebih tak berdaya menegur setelah mereka benar-benar mengambil giliran saya. Biasanya memang ada petugas yang mengatur giliran. Tapi saat itu, pengunjung yang datang agak banyak sehingga petugas tidak sempat mengeceknya lagi.

“Fasilitas ini bagus sekali,” kata Syamsul, mahasiswa Fakultas Ekonomi UMI Makassar, yang berdomisili di Jalan Alauddin. ”Tapi sayang antrean pengunjungnya kurang teratur.”

Fasilitas lain yang menarik adalah ruang pertemuan atau seminar yang disediakan bagi lembaga donor, LSM nasional/internasional maupun forum-forum lokal di Makassar. Tentu saja ruang ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti LCD, sound system, whiteboard, dan flip chart. Terdapat dua ruang pertemuan yang nyaman dan tenang, yaitu ruang Nusa Tenggara yang tertutup dengan kapasitas 20-25 orang, dan ruang pertemuan terbuka, yang cocok untuk suasana santai, dengan kapasitas 40-50 orang.

Fasilitas perpustakaannya yang bernuansa elegan dan sejuk, dengan koleksi buku mengenai Kawasan Timur Indonesia, juga menarik. Buku-bukunya cukup baru, banyak yang bertema budaya, ekonomi dan politik. Di antaranya "Sinjai, 10 tahun dalam Memori", "Simbolisme unsur Visual Rumah Tradisional Toraja"; "Pahlawan dari Sulawesi Selatan"; "The ecology of Nusa Tenggara dan Maluku"; dan "Otonomi Khusus Papua". Pokoknya kalau mau mempelajari tentang Kawasan Timur Indonesia, perpustakaan ini adalah sumber yang dapat diandalkan.

Kehadiran fasilitas yang memanjakan ini merupakan bagian dari program Indonesia Timur yang dikelola Bank Dunia dengan dukungan dana dari Pemerintah Inggeris dan Pemerintah Belanda, serta dukungan tambahan dari sejumlah lembaga asing lainnya. Program Indonesia Timur yang dimulai September 2004 ini bertujuan membantu pengembangan sumber daya manusia di kawasan ini, yang tertinggal jauh dibandingkan kawasan Indonesia Barat. Fasilitas fisik berupa bursa pengetahuan ini dipadukan juga dengan fasilitas virtual yang dapat diakses di situs web: www.bakti.org. Tentunya, diharapkan dengan penggabungan fasilitas fisik dan virtual yang menyediakan informasi dan pengetahuan melimpah tentang Indonesia Timur, dapat mendorong percepatan pembangunan di kawasan ini. Sementara bagi warga Makassar, tentu saja kehadiran BaKTI adalah surga informasi yang menjadi favorit berbagai kalangan. Karena selain fasilitas yang memadai, lokasi Bakti yang mudah diakses pun menjadi alasan mengapa tempat ini selalu ramai. (p!)

*Citizen reporter Amrizal Muchtar dapat dihubungi melalui email muridhipokrates@telkom.net

Partner Link:
1. There are four diabetes-type

No comments: