Monday, November 12, 2007

Liputan : Andrea Hirata Tidak Suka Perpustakaan


Dunia perbukuan Indonesia belakangan ini dimarakkan oleh munculnya penulis-penulis baru yang berprestasi melahirkan karya-karya bestseller. Satu dari sekian penulis tersebut adalah Andrea Hirata, seorang pria asal Belitung yang mengisahkan perjalanan hidupnya dalam novel tetralogi Laskar Pelangi. Pada rabu, 31 November 2007, Andrea didaulat untuk membedah novel laris tersebut di Gedung Graha Pena, Makassar.
Buku Laskar Pelangi merupakan karya fenomenal dari pria yang mengaku belum pernah sekalipun menulis suatu karya sastra sebelumnya. Penjualan buku ini benar-benar mengagumkan. Sejak diterbitkan pertama kali pada September 2005 sampai Oktober 2007, buku ini telah dicetak ulang sepuluh kali.

Acara bedah novel itu tampaknya disambut hangat dan antusias oleh peminat buku di Makassar. Ini terbukti dari jumlah peserta yang tidak kurang dari tiga ratus peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, karyawan, dan ibu rumah tangga memenuhi ruang pertemuan tempat acara tersebut berlangsung. Bahkan Ilham Arif Sirajuddin, walikota Makassar, diundang dan didaulat untuk membuka acara tersebut.

“Acara ini sangat bagus dan sinergis dengan program Gerakan Makassar Gemar Membaca yang sedang dijalankan pemerintah daerah," kata Ilham dalam sambutannya. Menurutnya, banyak sekali hal positif yang bisa didapat dari kegiatan membaca. Karena itu pemerintah sangat mendukung program seperti ini. Bahkan bagi penulis asal Makassar yang berkeinginan menerbitkan karyanya akan dibantu.

Salah satu bukti yang ditunjukkan oleh Walikota adalah dengan membeli secara langsung seratus eksemplar buku PANGERAN BERKUDA PUTIH DAN SUPIRKU, karangan Islah, seorang siswi asal SMA 5 Makassar. Pembelian ini dilakukan secara simbolis di hadapan ratusan peserta.

Selain penulis buku, acara ini juga dihadiri editor buku Laskar Pelangi, Salman Faridi, yang berasal dari penerbit BENTANG PUSTAKA Yogyakarta. Bersamanya, Andrea Hirata membedah bukunya dengan gaya yang santai. Sesekali Andrea menyegarkan suasana acara dengan lelucon-lelucon mengejutkan. Hal ini tidak mengherankan, mengingat ini adalah bedah buku ke 98 yang dia lakukan di seluruh Indonesia.

Laskar Pelangi sendiri mengisahkan kehidupan di sebuah SD yang hanya memiliki sepuluh murid, salah satunya adalah Andrea. Tragisnya, kondisi SD yang berada di daerah pedalaman Belitung tersebut sangat memprihatinkan karena hampir roboh. Tapi berkat kegigihan murid-murid tersebut dan jasa Ibu Muslimah, satu-satunya guru di sekolah tersebut yang rela mengajar mereka bertahun-tahun tanpa digaji, mereka semua berhasil menjalani pendidikan.

Kisah Laskar Pelangi sangat mengharukan dan mengandung nilai-nilai edukasi yang tinggi bagi pembaca. Walaupun sudah puluhan kali membedah bukunya, tampak sang penulis masih terdengar terharu saat menceritakan pengabdian Ibu Muslimah dalam mengajar mereka. Salah satu yang dia ceritakan adalah di saat mereka bersepuluh sudah berada di dalam kelas untuk belajar dan ternyata Ibu Muslimah belum datang-datang. Hujan yang deras memperburuk suasana saat itu. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan anak-anak SD yang terkurung dalam suatu gedung reot di tengah hujan lebat tanpa ada orang dewasa di dekat mereka. Di sini pengabdian Ibu Muslimah benar-benar terlihat. Ternyata guru tersebut tetap datang mengajar walaupun hanya dengan berpayungkan daun pisang. Disinilah terpatri niat dalam hati Andrea kecil untuk menuliskan pengabdian gurunya tersebut dalam suatu buku.

Akan tetapi, niat tersebut ternyata tidak segera dia dapat wujudkan. Karena kesibukan setelah bekerja, niat tersebut sempat terlupakan. Musibah Tsunami Aceh 2004 menggugah kembali semangatnya. Saat dia jadi relawan di Serambi Mekah, dia mendapati begitu banyak sekolah-sekolah rubuh di kota itu. Yang paling menggetarkan perasaannya saat dia melihat spanduk yang bertuliskan AYO SEKOLAH, JANGAN MENYERAH. Dia merasa sangat sedih dan segera teringat kondisi sekolahnya dahulu. Selepas pulang dari Aceh, Andrea segera menulis kisah hidupnya tersebut. Dan sungguh luar biasa, hanya dalam tiga minggu saja draft pertama novel setebal 700 halaman tersebut selesai.

Awalnya pria yang bekerja di TELKOM Bandung ini sama sekali tidak ada niat untuk menyebarluaskan novel ini. Andrea hanya mencetak fotokopi untuk kalangan terbatas. Tapi seorang teman yang melihat prospek buku ini diam-diam mengirim ke penerbit Bentang atas nama Andrea. Fantastis, dalam hitungan minggu, novel ini laris manis hingga harus dicetak ulang.

Begitu banyak komentar yang datang merespon kehadiran buku Laskar Pelangi. Kebanyakan bersifat memuji kehadiran buku yang lain dari yang lain ini. Hal ini memicu sang penulis melanjutkan menulis kisah hidupnya yang menarik hingga menjadi tetralogi. Baru tiga yang telah terbit yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Semuanya telah berkali-kali cetak ulang. Edensor sendiri yang edisi pertamanya terbit Mei 2007 telah mengalami empat kali cetakan. Buku terakhir dari rangkaian tetralogi yang berjudul Maryamah Karpov belum diterbitkan.

Dalam bedah novel gratis ini, beragam peserta mengajukan pertanyaan kepada Andrea. Salah satunya Aan mengomentari bahwa dia sangat tidak setuju kalau cerita Laskar Pelangi difilmkan karena unsur-unsur literasi dari buku akan hilang. Andrea dalam hal ini berkomentar bahwa dia akan ikut berjuang keras agar ceritanya ini benar-benar akan berjalan sesuai konteks novelnya dan tidak diseret arus kapitalis yang menyebabkan suatu karya menjadi tidak bermutu.

Satu hal menarik yang terungkap dari bedah novel ini adalah pendapat Andrea yang mengatakan tidak setuju dengan konsep perpustakaan yang ada selama ini. Menurutnya konsep perpustakaan itu tidak akan memecahkan persoalan minat baca di Indonesia karena tidak meliput ke semua orang dan semua area. Banyak sekali orang yang tidak bisa mendatangi perpustakaan dan sebaliknya kualitas perpustakaan yang ada sering tidak membuat pengunjungnya meraih apa yang mereka butuhkan.
Andrea lebih menyukai konsep learning centre dimana sumber-sumber pengetahuan seperti guru-guru langsung didatangkan ke daerah yang membutuhkan. Ini akan lebih tepat sasaran, menurut Andrea yang dalam bedah novel ini menantang kepada peserta untuk menjadi guru-guru tersebut.

Bedah novel ini diharapkan bisa merangsang minat baca dan menulis masyarakat makassar sehingga bisa bakat-bakat yang masih kuncup di kota Daeng ini bisa mekar mewarnai dunia perbukuan kita yang mulai menggelora.


Amrizal Muchtar

No comments: