Wednesday, September 5, 2007

Cerpen: Merah Putih

MERAH PUTIH

Sejak tadi mataku tak lekang dari pengemis perempuan yang berjalan dengan gontai di antara kendaraan yang berhenti karena lampu merah itu. Tangannya yang memegang gelas besi putih digoyang-goyangkan ke arah seorang pengendara motor bebek. Sesaat kemudian bertambahlah isi gelas itu seribu rupiah.

Edan! Umpatku dalam hati. Mudah amat orang itu dapat uang. Mungkin penghasilannya sebulan lebih tinggi dariku. Bagaimana kalau aku jadi pengemis juga? Aku bertanya pada diri sendiri. Aku mungkin tidak perlu bangun terlalu pagi dan buru-buru menunggu bis untuk ke kantor. Aku juga tidak perlu dapat omelan bos karena kesalahan-kesalahan yang sepele. Hidup bisa jadi lebih bebas.

Aku bangkit dari kursi kayu panjang di depan toko fotokopi dekat kantor. Aku mendengus kesal. Kulirik arlojiku. Kayaknya Heri tidak akan datang lagi hari ini. Dia selalu saja ingkar janji. Lebih baik aku pulang sekarang.

Aku berbelok ke kanan. Sinar matahari sangat terik. Rasanya seperti membakar kulitku. Kulirik arloji peninggalan ayahku. Hampir jam tiga.

Aku mengeluh dalam hati. Apalagi alasan yang akan kukatakan pada ibu kosku? Ia pasti tidak akan percaya kalau kukatakan aku membantu temanku yang dirawat di rumah sakit sehingga tidak bisa bayar kos hari ini. Itu alasanku bulan lalu.

Kalau aku terus terang bahwa gajiku bulan ini terpaka untuk mengganti inventaris kantor berupa komputer yang kurusak, tentu ia lebih tidak terima.

Seratus meter lagi aku sampai di halte bis. Aku melewati gang sempit yang sangat bau. Aneh juga, pikirku. Sudah lima tahun lebih aku lewat sini, tapi aku belum juga bisa terbiasa dengan bau busuk itu. Di sana-sini tampak gerobak sampah yang penuh.

"Toloong!" terdengar suara rintihan.

Aku terkejut. Segera kucari asal suara itu.

"Tolong!" suara itu lagi.

"Kamu dimana?" seruku.

"Di sini." Asalnya dari gerobak sampah di ujung jalan.

Aneh, tidak ada siapa-siapa di sini, pikirku.

"Tolong bawa aku keluar dari tempat busuk ini." pintanya.

"Tapi kamu dimana? Aku tidak melihat siapa-siapa di sini."

"Kamu melihat bendera merah putih, tidak?"

"Tidak." sahutku sedikit takut. Jangan-jangan

"Carilah." Suara itu semakin memohon."Tolonglah aku."

Aku mengambil setangkai kayu disana. Lalu kuaduk-aduk sampah itu. Ya, benar. Ada sehelai kain berwarna merah putih yang sangat kotor dan robek di sana-sini. Aku mengaitnya dan menghempas ke tanah.

"Tolong bawa aku pergi dari tempat ini."

Aku tersentak. Bendera itu bicara? Aku pasti sudah gila. Aku bersiap-siap. Ini pasti hantu.

"Jangan lari. Kamu mau jadi kaya kan? Aku akan membantumu."

Aku kembali melihatnya. Ya, aku sangat ingin jadi kaya. Perlahan-lahan kupungt bendera itu.

########

Bendera itu berukuran dua kali satu meter. Besar sekali. Seingatku yang seukuran itu cuma bendera pusaka Indonesia yang sering dipakai di upacara kenegaraan. Warnanya sudah sangat pudar. Bukan merah lagi, tapi sudah oranye. Dua sudutnya telah hilang. Di sana-sini tampak robekan seperti disengaja. Dan lagi bendera itu sangat kotor dan bau.

"Tolong cuci aku sampai bersih." pinta bendera itu. "Aku tidak tahan dengan bau busuk ini."

Kuikuti keinginannya. Mudah-mudahan dia benar-benar bisa membuatku kaya. Ketika kujemur di luar kamar kosku, temanku, Zaki, keheranan.

"Mau kamu apakan bendera jelek itu, Man?"

Aku tersenyum. "Tahu nggak kalau bendera ini-" Aku hampir mengatakan bahwa bendera ini bisa bicara. Tapi kuurungkan. Pasti dia akan menganggapku gila.

Setelah kering aku membawanya ke dalam kamar. Ini saat bagi bendera itu untuk menepati janjinya.

"Nah, bagaimana kau bisa membuatku kaya?" tanyaku setelah meletakkannya di atas kasur dalam keadaan terlipat.

"Tenang dulu." katanya. "Kamu harus dengar dulu ceritaku."

"Ok, aku menunggu."

Dia mulai bercerita. "Aku sebenarnya berasal dari kota ini juga, Makassar. Kamu tahu? Aku adalah bendera merah putih pertama yang dibuat di daerah ini. Kala itu, pembuatku, Pak Malik namanya, baru saja mendengar dari radio bahwa Sukarno dan Hatta baru saja memproklamirkan kemerdekaan. Langsung saja dia menyuruh istrinya membuatku dari sisa kain peninggalan Belanda.

"Jadi kamu salah. Yang membuatmu istrinya, bukan Pak Malik."

"Ya, dua-duanya. Kan yang mencarikan kain Pak Malik." Bendera itu tidak mau kalah. "Lantas setelah itu Pak Malik, sebagai salah satu pejuang, segera berseru pada masyarakat bahwa kita sudah merdeka. Senang sekali rasanya."

Setelah tiga puluh lima tahun, Pak Malik dipanggil anaknya yang sukses di Timor-timur untuk tinggal bersama. Aku senang sekali karena Pak Malik dan istrinya masih setia padaku. Mereka membawaku serta. Tiap bulan Agustus, aku selalu dikibarkannya, padahal sebenarnya banyak bendera lain yang lebih bagus. Sampai suatu hari, kalau tidak salah di tahun 99, aku yang lagi dijemur di halaman mendengar seruan "Merdeka!" Kulihat rombongan orang-orang mendatangi rumah Pak Malik. Mereka memukuli Pak Malik dan istrinya. Aku mendengar, "Hidup Timor merdeka!" Tiba-tiba aku ditarik dari tali jemuran dan dirobek-robek."

Aku mendengarnya dengan penuh seksama. Aku sama sekali tidak menyangka peristiwanya setragis itu.

"Lantas aku dibuang ke laut."

Ia berhenti bicara.

"Lalu apa?" Aku penasaran.

"Di laut aku terkatung-katung. Tiba-tiba saja terpetik hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Kenapa bendera merah putih seperti aku bisa memiliki sifat-sifat seperti manusia? Aku bisa merasa senang ketika diarak keliling kota. Aku bisa melihat dan mendengar. Aku merasa sakit ketika dirobek-robek oleh orang Timor. Dan aku merasakan dinginnya air laut.

Aku lalu berdoa. "Ya, Tuhan, hilangkanlah sifat-sifat manusia ini dariku. Punya perasaan itu sangat tidak enak. Apalagi kalau sedang menderita."

Tiba-tiba saja aku seperti mendengar sesuatu. "Kamu bisa menghilangkan sifat-sifat manusiamu apabila kamu bertemu kembali dengan pemilikmu yang dulu. Dan untuk menolongmu, kamu akan dianugerahi kemampuan bicara pada orang yang bernasib malang sepertimu."

"Jadi aku orang yang bernasib malang itu?"tanyaku.

"Iya."katanya tanpa ragu. "Aku mohon, tolonglah pertemukan aku kembali dengan pemilikku, Pak Malik. Agar aku bisa menghilangkan sifat-sifat manusia ini dari diriku."

"Tapi bagaimana caranya? Timor-timur bukan lagi wilayah Indonesia. Dan lagi, aku tidak tahu alamat Pak Malik."

Kami terdiam. Berusaha memikirkan caranya.

"Ngomong-ngomong" Aku membuka suara. "Bagaimana dengan janjimu membuatku kaya?"

"Maafkan aku. Aku ... bohong."

"Apa?" Telingaku memerah. Aku paling benci orang membohongiku. Apalagi oleh bendera. Aku sangat marah.

"Maafkan aku." Bendera itu memohon.

"Aku tahu cara untuk menghilangkan sifat manusiamu itu."

"Bagaimana? Bagaimana?" Dia gembira.

Aku membawa bendera itu keluar dengan terlebih dahulu menyambar korek dan tempat minyak tanah.

Kusirami bendera itu dengan minyak tanah.

"Apa yang kau lakukan?" Bendera itu panik.

Kunyalakan korek api.

"Satu-satunya cara untuk menghilangkan sifat manusiamu itu adalah dengan menghilangkanmu dari muka bumi."

"Jangan!" teriaknya.

Terlambat. Api telah menjilatnya. Tiba-tiba aku sadar.Bendera itu bisa merasakan sakit.

Tapi aku tidak berbuat apa-apa lagi, kecuali melihatnya. Aku tertawa dalam hati. Siapa suruh kau membohongiku!

Amrizal, Makassar, Agustus, 2002

Didigitalkan Makassar, 6 September 2007

www.penjelajahwaktu.blogspot.com


Partner Link :

Diabetic Diet is Important to Control Your Blood Sugar

4 comments:

noertika said...

hahha...saya terus terang kaget dan takjub dgn endingnya. ndak seperti drama sinetron atau Pelleng india yg sudah bisa ketebak akhirnya, hanya dgn membaca/menonton sekelebat. sa suka gak bertuturta.
cuman sa kira yg perlu direview;
- terlalu banyak AKU dalam cerpen itu, kebanyakan AKU bisa bikin pembaca eneg
- pemilihan kata sambung, misalnya berjalan 'dengan' gontai, agak kurang sedap...kenapa gak ditulis saja berjalan gontai....

eniwei, sa suka cerpenta...sgt orisinal..:)

http://daengrusle.com

Anonymous said...

haaa keren banget ceritanyaa

Anonymous said...

[url=http://cialisnowdirect.com/#cynim]cialis 10 mg[/url] - cheap cialis online , http://cialisnowdirect.com/#rkjjf cialis online

Anonymous said...

[url=http://viagranowdirect.com/#qnyjo]order viagra[/url] - viagra 50 mg , http://viagranowdirect.com/#iqyat viagra 25 mg