Thursday, August 30, 2007

SEKALI LAGI MENJADI HAKIM KEMATIAN

SEKALI LAGI MENJADI HAKIM KEMATIAN Selasa, 1 Agustus 2007, aku kembali "menjalani" sebuah kematian. Sungguh berat rasanya mendapati orang sekarat, yang napasnya tinggal satu-satu. Apalagi sebagai orang yang memutuskan apakah dia sudah meninggal atau tidak. Tanggung jawab itu rasanya begitu besar. Sulit sekali mengatakan kepada keluarganya. Tapi akhirnya dengan segenap kekuatan kalimat itu terungkap. "Maaf, Pak, dia sudah meninggal!" Tangis keluarga langsung pecah. Suaranya memenuhi seluruh ruangan di klinik 24 jam itu. Aku tertunduk lesu. Aku bisa merasakan kesedihan para keluarga. Air mata ini juga mau meluber sebenarnya. Tapi berhasil aku bendung. Terlepas dari keadaan pasien yang berat, aku tetap menyesali kenapa aku tidak bisa menyelamatkan jiwanya. Hati kecilku tidak bisa menerima kalau mungkin memang ajalnya sudah di situ, seperti kepercayaanku kalau ajal setiap orang itu sudah ditetapkan tempat dan waktunya secara tepat. Wanita paruh baya itu memang datang dengan keluhan penyakit jantung, penyakit yang sangat mematikan kalau tidak ditangani dengan intensif. Setelah diperiksa, dianjurkan kepada keluarga untuk segera membawanya ke rumah sakit saja. Klinik 24 jam yang aku tempati tidak memadai dari segi prasarana untuk merawat wanita itu. Lagi-lagi biaya menjadi batu sandungan. Salah satu anggota keluarga mengatakan tidak memiliki dana untuk masuk rumah sakit. Untuk masuk rumah sakit, harus disiapkan setidaknya tiga juta rupiah sebagai uang masuk. Gila.Belum masuk sudah bayar! Akhirnya keluarga memaksakan untuk tetap dirawat di klinik. Kita sebagai dokter tentu saja tidak bisa memaksakan untuk pindah kalau mereka tidak mau. Kita hanya bisa memberikan pertolongan maksimal. Akhirnya, suara panik yang dari awal sudah kuduga muncul juga sekitar pukul 18.00. Aku segera memeriksanya. Seluruh keluarga memanggil-manggil nama wanita itu. Suara tangisan membahana. Wanita itu sudah tidak bernapas.Dipanggil diam saja. Kuperiksa arteri di lehernya, tidak ada denyutan. Stetoskop sudah tidak bisa lagi mendeteksi denyut jantung. Refleks pupil matanya sudah tidak ada lagi. Saya sudah menduga pasien ini akan meninggal. Tapi aku tidak mau bilang dulu sama keluarganya. Kucoba lakukan pertolongan pertama. Aku segera membebaskan jalan napasnya. Dia kembali bernapas. Satu. Dua. Lambat sekali. Jantung masih tidak berdenyut. Aku mencoba melakukan pompa jantung. Tapi tidak juga membaik. Kuintip pupil matanya dengan senter. Ternyata sudah melebar dan tidak ada reaksi lagi. Akhirnya kunyatakan pasien ini telah meninggal. Berat rasanya mengatakan itu. Tapi mau tidak mau harus kukatakan. Dan ini disambut jeritan anggota keluarga. Aku meninggalkan mereka yang berduka dalam keadaan ikut terguncang. Tidak percaya aku bisa mendapati kasus kematian seperti ini lagi. Ini benar-benar mengingatkanku akan kematian. Serasa menegurku untuk kembali mempersiapkan kematian yang tidak bisa tertebak. Tidak ada yang tahu kapan kematian seseorang. Aku bisa saja meninggal seperti itu. Ya, Allah, batinku. Ampunilah dosa-dosaku baik yang sengaja maupun tidak sengaja aku lakukan. Kalau nanti sudah sampai waktuku, matikanlah aku dalam keadaan khusnul khatimah. Keesokan harinya aku melayat kematian ibu itu. Rasa bersalah karena menjadi "pemvonis kematian" tetap menggelayut. Aku merasa tidak sanggup menatap wajah keluarga yang ditinggalkan. Aku mengikuti jenazahnya diangkat, diantar ke kuburan, dan di makamkan. Saat jenazah diletakkan, ditutup dengan kayu, dan ditimbun. Saat-saat itu begitu membekas di sanubari. Aku sadar aku tidak bisa mencegah kematian kalau memang sudah waktunya, tapi aku merasa bersalah, belum bisa memberi pertolongan maksimal yang seharusnya karena pengetahuanku masih sangat kurang.Aku berjanji akan belajar lebih banyak lagi. AMRIZAL CIBINONG 1 AGUSTUS 2007 MAKASSAR, 26 AGUSTUS 2007



Partner Link:
Learning Diabetes Type 1

1 comment:

Anonymous said...

ternyata berat jg yah menjadi seorang dokter...harus jd hakim kematian. (sad)...