Thursday, August 30, 2007

Jadi Dokter Spesialis

Jadi Dokter Spesialis

Dua hari lalu, aku menginjakkan kaki lagi di RS Wahidin Sudirohusodo untuk pertama kalinya setelah sekitar sembilan bulan berada di Jabotabek. Tidak ada perubahan yang berarti. Salah satunya ya tempat parkirnya yang sistemnya diperbaiki. Ada perasaan aneh juga. Di saat dulu masih koass di sini, aku tidak perlu bayar uang parkir karena bisa menyimpan motor ditempat parkir pegawai. Tapi sekarang, aku sudah keluar dari sistem pendidikan. Jadi sudah dianggap orang luar dan harus menempati parkir umum. Otomatis harus bayar.

Perubahan lain, beberapa teman yang senasib dulu saat mahasiswa dan koas, masa dimana kami harus menjalani suka duka untuk menjalani pendidikan dokter, sudah berubah statusnya. Sama sih dengan status saya yaitu dokter umum, tapi beberapa dari mereka telah menjadi calon dokter spesialis. Ada yang sudah menjalani pendidikan spesialis bedah umum, ada yang spesialis kandungan, mata, interna, anak, dan banyak lagi. Ya, wajarlah saya agak sedikit iri. Tapi saya lebih banyak senangnya melihat nasib mereka.

Tidak sampai empat tahun lagi, mereka akan menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Aku merefleksi ke cermin maya di depanku. Bagaimana ya nasibku ke depan? Cuma Allah yang tahu. Apa aku akan memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk mengikuti pendidikan lanjutan seperti mereka?

Sekarang ini tidak mungkin. Tabungan tidak seberapa. Mau minta ke orang tua dan saudara tidaklah mungkin. Ya, sekarang saya tidak boleh lagi tergantung sama mereka. Kalau mereka memilik kekayaan berlimpah, mungkin saja bisa pinjam uang. Tapi kenyataannnya lain.

Sempat saya dengar, untuk masuk ke spesialis di unhas, memerlukan dana yang luar biasa. Ada istilah uang "ketok pintu" alias uang masuk yang jumlahnya tidak kecil. Spesialisasi anak sedikitnya 50 juta, spesialisasi obgin lebih tinggi lagi yaitu 250 juta. Weleh weleh. Duit segitu sangat tidak terjangkau buatku. Ada juga uang spp yang jumlahnya sekitar 10 juta per semester. Belum lagi pengeluaran-pengeluaran lain.

Tapi kemudian saya bertemu dengan calon dokter spesialis kandungan yang waktu koass dulu amat baik sama koas-koas. Masih muda. Belum tigapuluhan tapi sudah hampir jadi spesialis. Ya, maklumlah dia kan punya modal. Dia mengatakan hal yang cukup menggembirakan. Istilah uang masuk sudah dihapuskan. Wow, itu berita yang cukup fantastis menurutku. Jadi tinggal spp dan pengeluaran lain saja. Selama ini uang masuk tersebut cukup menjadi penghalang bagi calon-calon dokter spesialis. Berita ini cukup meningkatkan hasratku buat menempuh pendidikan spesialis obgin. Semoga bisa tercapai! Amiiin!

AMRIZAL, MAKASSAR, 26 AGUSTUS 2007



Partner Link:
Learning Diabetes Type 1

No comments: