Sunday, August 12, 2007

DOK, KOK SAYA BELUM SEMBUH SIH?

DOK, KOK SAYA BELUM SEMBUH SIH?

Sore itu seorang ibu muda datang dengan muka berseri membawa anaknya ke tempat praktek saya di Klinik Wisata Medika, Anyer.
"Gimana, Bu, sekarang anaknya?" tanyaku.
"Alhamdulillah, Pak Dokter. Sekarang jauh lebih baik. Batuk-batuknya sudah berkurang. Obatnya benar-benar bagus. Sekali minum aja, langsung deh dia bisa main"
"Alhamdulillah." kataku bersyukur. "Kalau begitu, ibu harus terusin obatnya ya, sampai benar-benar sembuh."
"Iya, dok. Trima kasih, Pak Dokter."
Saat itu saya bahagia sekali. Saya telah membantu orang menjadi sehat. Perasaan ini tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata. Begitulah perasaan saya tiap kali mengetahui pasien saya sehat kembali dengan resep obat dari saya.
Tapi suatu waktu saya mendapat kasus lain.
Sepasang orang tua membawa anak laki-lakinya pada saya. Mereka tampak cemberut.
"Dok, kenapa panas anak saya belum turun?"tanya ibunya. "Obatnya sudah habis tapi kok belum sembuh ya, Dok?"
Perasaan saya langsung berkecamuk. Rasa bersalah menggerayangi. Ya, Allah. Kenapa? Kenapa aku tidak berhasil menyembuhkan pasien ini? Apa yang salah, ya, Allah? Mereka sudah datang kepada saya, mengharapkan bantuan saya untuk menolong anak mereka. Tapi kenapa dia belum sembuh? Kasihan mereka! Sudah mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit, tapi apa hasilnya.
Dua peristiwa itu adalah contoh pengalaman yang mewarnai hidup saya sebagai dokter. Saya yakin dokter-dokter lain juga begitu. Ketika pasien sembuh, hati merasa senang sekali. Sebaliknya di saat pasien tidak sembuh-sembuh, hati ini menjadi sedih. Gelisah. Rasa bersalah. Apakah aku ini layak jadi dokter? itulah pertanyaan yang kadang muncul.
Aku benar-benar mengharapkan semua pasienku sembuh. Sampai-sampai aku sering berdoa pada Allah untuk semua pasienku. Intensitas doaku makin menguat tatkala menghadapi pasien rawat inap, dimana saya mengikuti perjalanan penyakitnya yang belum sembuh-sembuh juga.
Ya. Allah sembuhkanlah semua pasienku! jeritku selalu dalam doa.
Dua hari yang lalu, seorang ustaz yang pernah mengantar berobat orang yang ditabraknya datang lagi ke klinikku untuk membayar utang pengobatannya. Aku sempat mengobrol dengannya.
"Enak ya, Dok, jadi dokter? Bisa mengobati orang lain? Benar-benar pekerjaan mulia."
"Stres Pak Jadi dokter." keluhku.
"Stres kenapa, Dok?" tanyanya.
"Stres kalau pasien tidak sembuh-sembuh." curhatku.
"Bukan dokter yang menyembuhkan." katanya. "Tapi Allah."
"Iya juga sih. Tapi..." aku tidak melanjutkan.
"Ada kisah nabi musa yang cocok buat dokter. Dahulu umat nabi musa mengalami penyakit aneh. Lalu mereka meminta tolong pada musa.
Ya. Musa. Mintakanlah kami pada Tuhanmu, obat untuk penyakit kami., pinta mereka.
Setelah berdoa dan diberi wahyu, Musa berkata. Ambillah daun ini karena daun tersebut akan mengobati penyakitmu. Setelah minum ramuan daun yang dimaksud, mereka langsung sembuh.
Beberapa waktu kemudian, mereka kembali mendapat penyakit yang sama. Tanpa memberitahu Musa, mereka langsung mengambil daun yang sama dengan dahulu kemudian menjadikannya obat. Ternyata, mereka tidak sembuh seperti saat pertama memakai daun tersebut. Mereka bertanya ke Musa. "Wahai Musa, kenapa kami tidak sembuh dengan obat yang dulu engkau berikan kepada kami?"
Musa berkata. "Ya, umatku, sesungguhnya bukan daun itu yang menyembuhkan engkau tapi Allah."
Aku tertegun dengan cerita itu. Aku merasa diperingatkan kembali oleh Allah lewat ustaz itu. Ya, Memang Dia yang Maha Penyembuh. Bukan saya yang menyembuhkan. Saya hanya perantara saja.

AMRIZAL, CIBINONG 12 AGUSTUS 2007


Partner Link:
Learning Diabetes Type 1


1 comment:

Dani Iswara said...

iya dok ya..kl sembuh..wajar dan memang seharusnya.. :D

kl gak sembuh apalg malpraktik..nah itu dia..injek2 dokter!! :D

saya skrg mangkal di:
Dani Iswara Weblog

abis blog2 lain di profil saya cuman trial..