Tuesday, July 24, 2007

PRJ Miskin Budaya

PRJ Miskin Budaya

Jakarta berulang tahun lagi 22 Juni ini. Kali ini yang ke 480. Lepas dari kesemrawutan jakarta yang semakin parah saja, ulang tahun sekarang ini tetap dirayakan oleh pemerintah daerah secara besar-besaran. Satu yang selalu rutin diadakan oleh pemda jakarta dan selalu dipromosikan besar-besaran adalah Pekan Raya Jakarta atau dikenal dengan istilah Jakarta Fair.
Jakarta Fair adalah suatu acara semacam pameran berbagai barang industri yang diadakan tiap tahun dalam rangka ulang tahun jakarta dan dilaksanakan di Gedung Jakarta International Exhibition. Jakarta Fair tahun ini diadakan mulai tanggal 14 Juni-15 Juli 2007 dan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Promosi acara ini sangat heboh. Bisa dilihat sendiri dari iklan di media cetak dan elektronik yang tidak pernah alpa tiap harinya. Tapi apakah acara ini memang menarik? Saya sendiri mengunjunginya sabtu, 30 juni. .
Arena Jakarta Fair saat itu sangat ramai dengan pengunjung. Untuk masuk ke dalam arena pengunjung dikenai tarif 20 ribu rupiah pada akhir pekan dan 15 ribu pada hari lain.. Dengan tarif ini pengunjung akan mendapatkan smart card berupa semacam kartu atm yang nantinya dimasukkan ke dalam suatu mesin yang akan membukakan pintu masuk.
Selain itu pengunjung juga mendapatkan empat kupon makan "gratis". Sekilas kupon makan ini seolah bisa ditukarkan dengan makanan yang tertera di kupon tersebut seperti burger, roti, teh botol dan teh kotak. Di kupon tersebut tertera tulisan yang sangat besar seperti kata "gratis" atau "tukar kupon ini dengan". Tapi setelah dicermati lebih teliti, terlihat ada tulisan kecil sekali yang menandakan bahwa kita harus menambah sejumlah uang tertentu untuk mendapatkan makanan yang dimaksud. Ini tentunya membuat sebagian orang merasa tertipu.
Jakarta Fair sudah dilaksanakan sejak tahun 1968. Awalnya dilaksanakan di kawasan monas. Tapi sejak tahun 1992, acara ini dipindahkan ke kawasan kemayoran, tepatnya di gedung JI Expo. Acara yang awalnya dirintis oleh Gubernur DKI Ali Sadikin, kini telah menjadi pusat bisnis tahunan terbesar di Indonesia.
Memasuki arena PRJ, ternyata tidak ubahnya memasuki mal-mal lain tapi dengan stand-stand yang lebih ramai. Beragam produk ditawarkan di sini. Ada beberapa bagian
Ada satu hal yang sedikit mengecewakan saya. PRJ ini ternyata sangat minim budaya, dalam hal ini budaya betawi sebagai latar belakang Jakarta itu sendiri. Ini tentunya sangat memprihatinkan. Stand-stand yang ada didominasi oleh nuansa pop modern. Jangankan ornamen-ornamen betawi, seperti ondel-ondel, saya tidak menjumpai musik betawi dalam perjalanan mengelilingi arena PRJ. Tampaknya kepentingan bisnis berhasil menggerus nilai budaya tersebut. Yang lebih memprihatinkan lagi kalau ternyata arena ini dimanfaatkan sebagai ajang kampanye peserta pilkada DKI 2007.
Amrizal Muchtar

Partner Link:
Learning Diabetes type 2

No comments: